85-3Apa yang terlintas di pikiran kamu saat mendengar kata John Mayer? Tampan, berkharisma, skill gitar yang sulit dikalahkan, komunikatif, dan sederet wanita yang mengantri di belakangnya. Yap, pesona John Mayer sebagai seorang gitaris dan personal memang tidak ada habisnya.

Begitu pun ketika ia memutuskan untuk berhenti kuliah dari Berklee College of Music di Boston, Massachusetts, dan lalu menjadi seorang gitaris blues ternama saat ini. Namun di masa kuliahnya, ada satu sosok yang cukup menarik perhatian.

Yap, dia adalah Tomo Fujita, profesor musik yang pernah mengajar John Mayer di kampus tersebut. Sedikit yang mengenalnya, tapi jangan pernah meragukan seperti apa permainan gitarnya.

Percaya lah, Tomo Fujita memiliki sense dan feel in yang sangat baik sebagai seorang gitaris. Salah satu lagunya yang menarik adalah Kyoto. Memadukan lick gitar blues dengan sound musik jazz, sangat brilian ketika mendengar setiap bagian lagu ini mengalun di telinga.

Bukan cuma itu saja, metode yang diajarkan dosen Berklee College of Music ini cukup unik. Dia tidak akan mengajarkan apa pun pada para mahasiswanya kecuali mereka pergi ke Gereja dan mendapatkan feel serta sense dalam menyampaikan perasaan hati lewat musik yang mereka tampilkan.

Tomo Fujita beralasan, siapa pun bisa dengan mudah mengajarkan teori dan cara bermain gitar yang baik dan benar. Tapi untuk senses dan feel in, semua kembali pada hati pribadi masing-masing untuk menemukan, merasakan, lalu menuangkan semua itu dalam sebuah rangkaian musik.

“Dalam mata kuliahku, blues atau funk, aku cuma mengajarkan teknik dasar tentang bagaimana bermain musik yang baik, mendapat tone gitar yang pas, dan bagaimana menjaga rythm. Tapi aku juga mengajarkan sesuatu yang lebih bernilai di masa depan, jadi aku menekankan padafeeling, terutama pada permainan blues, baik dalam mengekspresikan, tone, dan waktu. Kadang hal-hal kecil ini cukup sulit untuk dicapai meski memiliki kualitas dan kejelian. Jadi, aku juga mengajar lebih banyak di grooves dan rythm,” tulis Tomo Fujita pada profilnya di situs Barklee College of Music.

Memang blues yang dimainkannya tidak sekencang John Mayer maupun Stevie Ray Vaughan. Tapi ketika mendengarnya mulai bermain, rasanya seperti mengingatkan permainan gitar BB King atau T-Bone Walker dengan perasaan yang mendalam.

Di sisi lain, hidupnya sebagai seorang ayah yang memimpin keluarganya justru harus menemui sebuah kepahitan. Ya, putra Tomo Fujita,Nathaniel Fujita (20), harus dipenjara seumur hidup karena membunuh mantan kekasihnya, Lauren Astley (18).

Orangtua Lauren Astley begitu terpukul mengetahui kondisi putrinya yang meninggal dalam keadaan mengenaskan. Tangisan terus mengiringi Lauren hingga ia fisiknya kembali ke Bumi.

Tentu sebagai orangtua mereka merasa kehilangan, begitu juga denganTomo Fujita yang tidak bisa menghabiskan masa tuanya bersama sang anak. Pada titik ini, mereka sama-sama kehilangan sosok yang dicintai dalam hidup.

Tapi setelah insiden itu, Tomo Fujita mencoba untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya. Kembali menjalin hubungan atas dasar perasaan bersalah dan minta maaf, keluarga Tomo Fujita justru semakin memiliki hubungan baik dan ikatan emosional yang kuat.

Hingga hari ini Tomo Fujita masih melanjutkan hidupnya sebagai seorang profesor musik di Berklee College of Music. Semua pengalamannya, baik sebagai profesor atau pemain musik, menjadikan musiknya begitu menyentuh, membawa setiap perasaan yang memang ingin disampaikannya dengan sanagat baik lewat setiap nada dan petikan gitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!