ISU emisi gas buang, khususnya di kota-kota besar dalam hal ini kendaraan bermotor, masih menjadi perhatian khusus masyarakat di negara berkembang. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70 %. Dari jumlah total tiap zat pencemar utama yang dikeluarkan setiap tahun, karbon monoksida (CO) merupakan zat pencemar terbanyak, sementara 60% dari hidrokarbon (HC) dan oksida nitrogen (NOx) yang kita hirup juga berasal dari kendaraan bermotor.

Fastned4_HR-750x629

BMW i3 saat melakukan pengisian baterai di Charging Station

Komitmen kuat dalam usaha mengurangi emisi karbon ini negara–negara di eropa melakukan beberapa aturan ketat dalam setiap industry otomotifnya. Standarisasi UERO – European Emission Standards –  adalah standar emisi kendaraan bermotor di Eropa yang juga diadopsi oleh beberapa negara di dunia. Euro mensyaratkan, kendaraan yang baru diproduksi harus memiliki kadar gas buang seperti nitrogen oksida, hidrokarbon, dan karbon monoksida berada di bawah ambang tertentu.

Namun di Belanda, polemik muncul ketika mayoritas suara dari anggota parlemen mendukung mosi untuk tidak lagi mengizinkan penjualan kendaraan baru yang menggunakan bahan bakar bensin atau diesel pada tahun 2025.

Aksi ini di gagas oleh Partij van de Arbeid (PvdA), atau “Partai Buruh” yang ingin membawa Negeri Belanda menjadi pelopor yang memiliki komitmen bagi di mulainya era transportasi non emisi.

Walaupun rencana ini masih banyak ditentang, namun pemimpin PvdA, Diederik Samsom berpikir bahwa rencana itu benar-benar layak untuk di lakukan.

Penolakan keras disampaikan oleh Partai VVD (Partai Rakyat Demokrat) yang mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang terlalu berambisi dan tidak realistis . Menteri urusan ekonomi dari Partai VVD, Henk Kamp, berpikir bahwa paling banyak 15 persen dari semua mobil yang dijual dapat benar-benar berteknologi listrik di tahun 2025.

Senada dengan Henk Kamp, Pemimpin Partai Halbe Zijlstra berpikir rencana ini sangat bertentangan dengan Perjanjian Energi . “Tampaknya gila untuk mendapatkan rencana ini untuk berhasil. Saya pikir kita harus menarik diri dari Perjanjian Energi “, katanya .

Hal ini dibantah oleh Diederik Samsom, “Teknologi ini sudah ada dan berkembang pesat di negara-negara lain yang lebih maju di bandingkan Belanda. Rencana tersebut juga tidak ada hubungannya dengan perjanjian energy”, menurut dia. “Perjanjian energi berlaku sampai 2023, kita bebas melakukan apa yang kita inginkan setelah itu. Kami memang ambisius, mungkin pihak lain yang kurang paham”, katanya, saat di kutip oleh NL Times beberapa waktu lalu.

Tahun lalu di Paris, delapan negara bagian Amerika Serikat dan lima negara (salah satunya Belanda) bergabung dengan International Zero- Emission Vehicle ( ZEV ) Alliance, mereka melakukan perjanjian kebijakan untuk membuat semua kendaraan penumpang bertenaga listrik pada penjualan tahun 2050.

Pada 2015 lalu, di Belanda saja sudah lebih dari 43.000 panel plug-in baru terjual, dari 449.347 yang masih indent , ini saja sudah meraup pangsa pasar sebesar 9,6 %.

Bisa di bayangkan jika Amerika Serikat dan negara produsen otomotif utama lainnya juga membuat komitmen seperti ini maka market share yang didapat pastilah jauh lebih besar. (Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!