⃰ Russanti Lubis

Dari berbagai sumber

 

Inilaki.com — Orang-orang Betawi yang hidup pada pertengahan abad ke-19, pasti mengetahui tentang Oey Tambahsia. Sebab, sosok ini bukan cuma tersohor karena hartanya saja, melainkan juga ulahnya yang membuat para orang tua gadis-gadis cantik kuatir setengah mati.

Meski begitu, ada saja yang sukarela dijadikan gundiknya. Seperti, istri cantik seorang pemilik toko kelontong. Ia ikhlas meninggalkan suaminya dan kemudian tinggal bersama Oey Tambahsia di suhian-nya.

Istri pemilik toko kelontong itu segera menempati posisi sebagai “simpanan” kesayangan Oey Tambahsia. Hal itu, membuat Nyonya Oey Thoa kuatir anak ketiganya tersebut akan menjadikan si janda sebagai istrinya yang sah (lihat: Matinya Sang Playboy Betawi: Hobinya Pamer Kekayaan dan Menggoda Perempuan, pen.).

Nyonya Oey Thoa pun membujuk anaknya agar mau menikah baik-baik. Barangkali, seperti orang tua pada umumnya, ia juga mengharapkan kebinalan anaknya akan berkurang setelah menikah secara resmi.

Oey Tambahsia tidak menolak saran itu, tapi ia juga mengajukan syarat. Ia harus menentukan sendiri pilihannya. Pada masa itu, tidak lazim anak muda menentukan jodohnya sendiri. Biasanya, orang tuanya lah yang mencarikan.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pasar_Baroe_in_Weltevreden_Batavia_TMnr_10015161

Pasar Baru

Terpaksa, sang Bunda menyetujui syarat itu, meski ia tidak tinggal diam. Nyonya Oey Thoa berpesan kepada sanak keluarganya maupun teman-teman, serta para kenalan baik agar mencarikan calon menantu dari keluarga baik-baik.

Harapannya, sang calon menantu nantinya bisa ditunjukkan kepada Nyonya OeyTambahsia secara tidak langsung. Dengan demikian, pemuda itu tidak akan mengetahui jika calon istrinya sebenarnya pilihan Ibunya. Sementara itu, Oey Tambahsia  juga tidak berpangku tangan. la berusaha mencari gadis idaman dengan caranya sendiri.

Setiap sore, ia keliling kota menunggang kuda kesayangannya sambil pasang mata. Ia memang terkenal sebagai penunggang kuda yang mahir dan bergaya. Selain itu,ia mempunyai koleksi kuda tunggang pilihan. Salah seekor kuda kesayangannya, blasteran Arab−Sandelwood, konon tiada tandingannya di seluruh Betawi. Pelana kuda itu yang diberi hiasan perak, dipesan khusus.

Di samping itu, Oey Tambahsia juga gemar berpakaian model Barat di mana hal ini menyimpang dari kebiasaan Masyarakat Cina waktu itu. Ya, ia memang seorang yang dandy. Pakaiannya selalu terbuat dari bahan-bahan mahal dan berpotongan bagus. Sehingga,semakin menambah gaya penampilannya.

Oey Tambahsia mengajukan syarat yang pada masa itu hampir tidak mungkin diterima oleh pihak orang tua si gadis. Ia ingin melihat dara idamannya dengan mata kepala sendiri.

Safari Oey Tambahsia di Kota Betawi (kota yang disebut di sini hanya mencakup sekitar Glodok−Pancoran−Pasar Ikan) tidak membawa hasil. Karena, anak perawan pada zaman itu dipingit. Selain itu, juga karena reputasinya yang terkenal buruk. Lantas, ia memutuskan memperluas wilayah perburuannya sampai ke Pasar Baru dan Senen.

Pada suatu hari, Oey Tambahsia sedang menunggang kuda di Gang Kenanga. Tiba-tiba, kudanya dikejutkan oleh sebuah peti kayu yang jatuh dari loteng salah sebuah rumah di situ.

Anak gadis keluarga Sim yang biasanya dipingit ketat, menengok dari atas loteng ketika mendengar kegaduhan di bawah. Ia melihat seorang pemuda gagah berusaha mengendalikan kuda hitamnya. Di lain pihak, penampilan nona cantik sepintas di atas loteng tidak luput dari mata Oey Tambahsia. Pandangan mereka bertemu sejenak, sama-sama terperanjat, sama-sama kagum.

Oey Tambahsia segera memutar tunggangannya kembali ke kota dengan santai. Ia merasa telah menemukan yang dicari-carinya selama ini. Tanpa menunda-nunda lagi ia memberitahu Ibunya.

Tidak lama kemudian, dikirimlah utusan ke rumah keluarga Sim di Gang Kenanga untuk membicarakan pinangan. Oey Tambahsia mengajukan syarat yang pada masa itu hampir tidak mungkin diterima oleh pihak orang tua si gadis. Ia ingin melihat dara idamannya dengan mata kepala sendiri.

Permintaan yang dinilai sangat tidak sopan itu, mungkin akan ditolak mentah-mentah oleh keluarga Sim seandainya yang mengajukan bukan Oey Tambahsia yang terkenal kaya raya dan anak Oey Thay Lo. Lagipula, keadaan keuangan Keluarga Sim sedang terdesak. Sehingga, syarat itu terpaksa diluluskan. Pinangan Oey Tambahsia diterima dan tanggal pernikahan akan ditentukan kemudian (lihat: Matinya Sang Playboy Betawi: Hobinya Pamer Kekayaan dan Menggoda Perempuan, pen.).

 

Kebetot Pesinden

Pada suatu hari, Oey Tambahsia mendapat undangan dari Bupati Pekalongan, untuk menghadiri pesta khitanan putra pertamanya. Seperti diketahui, Raden Ayu Bupati merupakan kakak sulung Oey Tambahsia.

Oey Tambahsia menerima undangan itu dengan senang hati. Lalu, berangkat ke Pekalongan bersama beberapa kaki tangannya. Pemuda kaya itu tidak lupa membawa buah tangan cukup banyak untuk tuan rumah berupa bahan makanan dan minuman untuk perhelatan, serta kembang api. Hadiah-hadiah itu, dikirim dengan kereta barang khusus, mendahului keberangkatannya.

Pesta meriah di Kabupaten Pekalongan semakin semarak, karena kehadiran seorang pesinden tenar bernama Mas Ajeng Gundjing (baca: Gundjing, pen.). Tapi, siapa sih Gundjing?

Sebenarnya, Gundjing merupakan putri seorang mantan camat. Ia menjadi pesinden, konon, semasa kecil pernah sakit parah. Bahkan, nyaris tidak tertolong. Dalam keadaan sulit itu, orang tuanya bernadzar jika anak mereka sembuh, kelak ia akan dijadikan pesinden.

Melihat “koleksi” terbarunya sakit, buru-buru Oey Tambahsia memindahkannya ke Tangerang, tepatnya ke tanah Pasar Baru miliknya. Dan, Oey Tambahsia sendiri yang mengawasi perawatannya sampai sang pesinden sembuh.

Gundjing sembuh. Bahkan, ia tumbuh menjadi gadis cantik, yang pandai menari dan melagukan tembang dengan merdu sampai tidak ada tandingannya di Pekalongan.

Si mata keranjang Oey Tambahsia langsung jatuh hati pada biduan jelita itu. Berbagai cara ditempuhnya, untuk mendekati dan memikat pesinden itu.

Dan, ia berhasil. Gundjing menerima uluran tangan Oey Tambahsia. Sebelum pesta di kabupaten resmi usai dan Oey Tambahsia pulang, sang pesinden sudah diboyong ke Cirebon, lalu dibawa ke Betawi oleh kaki tangan Oey Tambahsia. Di Betawi, Gundjing ditempatkan di suhian Ancol, yang membuat penghuni lama kurang senang.

Baru seminggu di Bintang Mas, begitu nama suhian itu, Gundjing jatuh sakit. Entah karena udara Ancol yang kurang sehat atau karena tidak tahan menghadapi sikap para penghuni lama.

Tentang suhian atau soehian (rumah pelesir) Bintang Mas di Ancol, agak sulit meraba keberadaannya sekarang. Entah berada di dalam atau luar kawasan Taman Impian Jaya Ancol, yang kini sudah melalui berbagai tahap evolusi.

Melihat “koleksi” terbarunya sakit, buru-buru Oey Tambahsia memindahkannya ke Tangerang, tepatnya ke tanah Pasar Baru miliknya. Dan, Oey Tambahsia sendiri yang mengawasi perawatannya sampai sang pesinden sembuh. Sehingga, praktis,ia lebih banyak berada di Tangerang ketimbang di tempat lain.

Namun, betapapun cintanya Oey Tambahsia kepada Gundjing, ia tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya untuk berburu gadis, janda, maupun istri orang lain. Hingga, pemuka Masyarakat Cina dan anggota Dewan Cina tidak mampu menertibkannya.

Diam-diam, mereka memendam dendam dan yakin suatu ketika Oey Tambahsia akan ketemu batunya. Sementara OeyTambahsia sendiri semakin takabur.Sebab, merasa tidak ada kekuatan yang mampu mengekangnya.

 

Mas Sutedjo Ketiban Sial

Seorang laki-laki muda berpakaian Priyayi Jawa, suatu hariberkunjung ke rumah Oey Tambahsia. Ia mengaku bernama Mas Sutedjo dan datang dari Pekalongan untuk mencari adiknya, Gundjing.

Seingat Oey Tambahsia, Gundjing tidak pernah mengatakan jika mempunyai Kakak laki-laki.Jadi, meski agak kurang senang dan curiga terhadap pria tampan itu, Oey Tambahsia tetap menyuruh tamunya diantarkan ke Pasar Baru, Tangerang.

Terbakar api cemburu buta, Oey Tambahsia menyuruh tukang pukulnya, Piun dan Sura, untuk menyingkirkan tamu dari Pekalongan itu. Kedua jawara bayaran yang sudah berpengalaman itu, melaksanakan perintah dengan cepat dan rapi.

Mas Sutedjo disambut hangat oleh Gundjing, layaknya saudara yang lama tidak bertemu dan datang dari jauh. Masa itu, perjalanan Pekalongan–Betawi harus ditempuh selama beberapa hari dengan kereta pos yang ditarik kuda. Karena itu, wajar saja kalau Gundjing menawari Kakaknya tinggal lebih lama di Tangerang, sebelum kembali ke Pekalongan.

Kebetulan, Mas Sutedjo cukup betah tinggal di rumah besar yang dikelilingi kebun luas dan para pelayan yang siap melayani segala keperluannya, selain merasa belum cukup puas melepaskan rindunya kepada adik tercinta.Ia memutuskan tinggal lebih lama dari rencana semula.

Selain menyanyi dan menari, Gundjing juga pandai membatik. Kegiatan ini sering dilakukannya pada waktu luang.

Suatu ketika, Mas Sutedjo diberinya hadiah berupa sehelai kain batik buatannya, sebagai kenang-kenangan. Pakaian itu langsung dikenakan Mas Sutedjo.

Hal itu, tidak luput dari penglihatan mata-mata di kalangan para pelayan. Sayang, mereka sering melaporkan apa yang mereka lihat tidak berdasarkan fakta, tapi semata-mata pada prasangka.

Dan, laporan mereka kali ini semakin menambah kecurigaan Oey Tambahsia hingga menjadi cemburu yang berlebihan. Apalagi, ia melihat sendiri betapa akrabnya hubungan laki-laki tampan itu dengan saudara perempuannya yang cantik, yang notabene umurnya tidak berjauhan.

Terbakar api cemburu buta, Oey Tambahsia menyuruh tukang pukulnya, Piun dan Sura, untuk menyingkirkan tamu dari Pekalongan itu. Kedua jawara bayaran yang sudah berpengalaman itu, melaksanakan perintah dengan cepat dan rapi.

Malam itu juga, Mas Sutedjo tidak pulang ke wisma Pasar Baru dan tidak seorang pun memberitahu adiknya ke mana perginya laki-laki malang itu. Ia telah menjadi korban kesekian dari Oey Tambahsia yang kejam.

Namun, Piun membuat kesalahan besar. Melihat kain batik yang dikenakan korbannya, terbit sifat tamaknya. Ia mengambilnya.Padahal, Sura sudah mengingatkan agar kain itu dibuang saja. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!