Matinya Sang Playboy Betawi

Russanti Lubis

Dari berbagai sumber

 

Inilaki.com — Ketika berkunjung ke pekalongan itu, Oey Tambahsia juga berkenalan dengan anak seorang Letnan Cina di kota itu. Pemuda bernama Liem Soe King itu, lalu pindah ke Betawi untuk membangun kehidupannya.

Agaknya, Ayahnya tidak meninggalkan warisan besar. Sehingga, ia tidak bisa hidup tanpa bekerja. Tapi, karena pandai dan rajin, maka ia dipungut mantu oleh Mayor Tan Eng Goan dengan menikahkannya dengan salah seorang putrinya dari selir.

Berkat koneksi sang mertua, ia diangkat menjadi pengelola gabungan pemborong (patcher) madat yang merupakan usaha gabungan antara Mayor Tan dengan empat Pemuka Masyarakat Cina yang lain. Pada masa itu, Pemerintah Hindia Belanda memonopoli semua pembuatan dan perdagangan madat (opium). Sementara penjualannya kepada konsumen, diserahkan kepada para patcher.

Sekalipun pernah berkenalan di Pekalongan, Liem Soe King tidak bergaul dengan Oey Tambahsia. Sebab,Liem Soe King lebih dekat dengan para Pemuka Masyarakat Cina yang bermusuhan dengan Oey Tambahsia, di samping kedudukannya sebagai menantu Tan Eng Goan.

Ia menemui Oey Tambahsia yang sedang tidur-tiduran sambil menghisap madat. Oey Tambahsia mempersilahkan Tjeng Kie ikut mengisap.

Pada suatu ketika, Oey Tambahsia mendengar dari kakitangannya jika seorang perempuan kerabatnya jatuh hati kepada Liem Soe King. Pendekatan yang dilakukan dengan cara apa pun, tidak ditanggapi oleh Liem Soe King.

Oey Tambahsia menganggap hal ini, sebagai penghinaan dan aib besar bagi keluarganya. Apalagi, Oey Tambahsia sudah lama tidak menyukai Liem Soe King yang dianggapnya antek para Pemuka Masyarakat Cina.

Selain itu,Oey Tambahsia merasa tidak di pandang, karena Liem Soe King tidak datang kepadanya untuk melanjutkan perkenalan mereka di Pekalongan. Di sisi lain, rasa dendamnya juga dikobarkan oleh para antek dan penjilat yang selalu mengelilinginya.

Oey Tambahsia pun bertekad menyingkirkan Liem Soe King. Tapi, ternyata, hal ini tidak semudah ia menyingkirkan korban-korbannya yang lain. Sebab, Liem Soe King selalu di kawal ke mana pun ia pergi. Lagi pula, ia sudah mendengar ancaman Oey Tambahsia. Sehingga, selalu waspada.

Oey Tambahsia bertambah geram, karena anak buahnya tidak berdaya melenyapkan orang yang dibencinya. Lantas, timbullah muslihat keji di benaknya.

 

Strategi Kue Ber-roomvla

Oey Tambahsia menggodok rencananya masak-masak. Ia menyuruh kokinya membuat kue yang biasanya diisi dengan roomvla (seperti, isi kue sus,pen.).Kemudian, ia meminta agar kue itu dihidangkan di atas piring dan ditaruh di kamarnya.

Lalu, Oey Tambahsia mengambil racun dan mencampurkannya dengan roomvla. Lantas, memasukkan roomvla ke dalam kue. Selanjutnya, ia memerintah seseorang untuk memanggil salah seorang begundalnya yang bernama Oey Tjoen Kie (Tjeng Kie).

Antek yang biasanya disuruh mencarikan perempuan itu, bergegas ke rumah majikannya. Ia menemui Oey Tambahsia yang sedang tidur-tiduran sambil menghisap madat. Oey Tambahsia mempersilahkan Tjeng Kie ikut mengisap.

Tawaran itu, diterima dengan senang hati. Setelah bersama-sama meneguk teh panas, Tjeng Kie merasa lapar dan makan kue-kue di piring, tanpa dipersilakan lagi. Dengan mata setengah terpejam, Oey Tambahsia melihat Tjeng Kie melahap dua buah kue.

“Kamu makan kue itu, Kie?” tanya Oey Tambahsia.

“Ya, Sia. Maaf, habis saya lapar,” jawab Tjeng Kie, dengan wajah takut kena marah.

“Wah,celaka! Kamu bakal mati. Kue itu beracun!” seru Oey Tambahsia, pura-pura terkejut.

Tjeng Kie lega. Karena, ia tidak dimarahi. Bahkan, ia tenang-tenang saja. Sebab, mengira majikannya bergurau.

“Jangan main-main ah, Sia,” katanya.

“Betul! Sungguh, kamu bakal mati. Tapi, jangan kuatir, aku akan mengurus segalanya dan menjamin hidup keluargamu kalau kamu mau menuruti kehendakku,” ujar Oey Tambahsia, sambil bangkit.

Tjeng Kie masih mengira majikannya bercanda. Mustahil Oey Tambahsia sekeji itu. Tapi, kemudian, ia merasa perutnya sakit. Ia terus-menerus meneguk air tehnya dengan harapan sakitnya berkurang. Namun, justru bertambah sakit.

Tidak lama setelah menandatangani pernyataan itu, Tjeng Kie tewas. Mayatnya dibawa ke stadsverband (rumah sakit) di Glodok, Jakarta Barat, untuk diperiksa.

Ketika sakitnya sudah tidak tertahankan lagi, ia berteriak-teriak dan melupakan hubungannya dengan majikannya. Ia memaki-maki Oey Tambahsia sebagai orang kejam dan jahat. Ia menanyakan apa alasannya sampai ia disingkirkan dengan cara sekejam itu.

Oey Tambahsia menghiburnya seraya berkata kalau kematian Tjeng Kie tidak sia-sia. Sebab, ada tujuannya, Lalu, ia membujuk begundalnya itu agar mau memberikan keterangan tertulis bahwa yang memberi racun itu… Liem Soe King.

Lantaran kondisinya semakin lama semakin parah sampai akhirnya tidak berdaya lagi melawan kehendak majikannya atau mungkin jiwa budaknya yang tidak bisa berpikiran lain, Tjeng Kie pun setuju saja ketika dibuatkan keterangan tertulis di muka notaris yang dipanggil oleh Oey Tambahsia dan disaksikan oleh polisi dan pejabat lain. Dalam pengakuan yang didiktekan oleh Oey Tambahsia, Tjeng Kie disuruh menagih utang kepada Liem Soe King. Tapi, tidak dibayar. Sebaliknya, ia persilakan duduk dan diberi minuman. Ketika perutnya mulai sakit, ia melapor kepada Oey Tambahsia.

Tidak lama setelah menandatangani pernyataan itu, Tjeng Kie tewas. Mayatnya dibawa ke stadsverband (rumah sakit) di Glodok, Jakarta Barat, untuk diperiksa. Sementara itu, Oey Tambahsia mengirimkan peti jenazah dan pelengkapan lain ke rumah keluarga mendiang di kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat. Sedangkan polisi membuat proses verbal, lalu mencari Liem Soe King yang dituduh membunuh Tjeng Kie.

Dirumah Liem Soe King, polisi mendapat keterangan bahwa tuan rumah sudah empat hari tidak pulang. Diduga, ia sedang sibuk main judi di rumah perkumpulannya.

Liem Soe King, akhirnya berhasil ditemukan di salah sebuah rumah judi di Meester Cornelis (Jatinegara) oleh orang-orang suruhan mertuanya. Liem Soe King sangat terkejut oleh tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Ia segera menghadap mertua, memberitahukan bahwa ia tidak tahu-menahu perkara pembunuhan itu. Setelah itu, ia langsung melapor ke polisi.

Karena menurut bukti-bukti tertulis Liem Soe King terlibat peracunan, polisi terpaksa menahannya, sementera mereka mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi lain untuk menyusun berkas perkara.

Mayor Tan Eng Goan tentu saja tidak tinggal diam. Ia berusaha menyelamatkan menantunya. Ia mendapat keterangan bahwa Liem Soe King tidak berada di tempat kejadian saat peristiwa peracunan itu. Liem Soe King memiliki alibi kuat yang didukung empat saksi. Ternyata, kegemarannya berjudi menyelamatkannya dari perangkap Oey Tambahsia.

Empat kawan mainnya di rumah judi, salah seorang di antaranya jaksa dari Bekasi, membuat pernyataan di bawah sumpah. Karena itu, polisi yang tidak yakin dengan kesalahan Liem Soe King, mengeluarkannya dari tahanan.

 

Museum Fatahilah tempo duluCurhat Sang Juru Masak

Ketika sedang berada di rumahnya, Liem Soe King secara kebetulan mendengar pembicaraan Jiran, salah seorang pembantu rumah tangganya. Jiran mengatakan bahwa Kakak perempuannya, yang bekerja sebagai juru masak di rumah Oey Tambahsia memergoki majikannya sedang memasukkan bubuk ke dalam kue yang disimpan di kamar tidur.

Liem Soe Kingsangat tertarik dengan cerita itu dan menyuruh Jiran memanggil Kakaknya. Dari juru masak Oey Tambahsia itu, Liem Soe King mendengar jika Oey Tambahsia menyuruh membuat kue yang memakai roomvla, tapi roomvla itu tidak langsung dimasukkan ke dalam kue. Sang juru masak melihat majikannya memasukkan roomvla itu ke dalam kue ketika berada di dalam kamar tidur.

Liem Soe King bergegas melaporkan keterangan ini kepada Asisten Residen Keuchenius, yang bertugas menangani perkara-perkara kepolisian. Keuchenius tentu saja tidak mau menelan begitu saja keterangan ini, tapi meminta bukti. Liem Soe King menyarankan agar rumah Oey Tambahsia digeledah. Siapa tahu roomvla beracun itu masih bisa ditemukan.

Penggrebekan dilakukan keesokan harinya, pagi-pagi sekali, oleh sepasukan  polisi dipimpin langsung oleh sang Asisten Residen. Oey tambahsia sedang tidak berada di rumah, tapi sisa kue masih ada, demikian pula semangkuk roomvla di kolong ranjang.

Mungkin, Oey Tambahsia begitu yakin tidak akan pernah dituduh melakukan peracunan. Sehingga, lalai menyingkirkan barang bukti ini. Menurut pemeriksaan polisi, racun dalam roomvla itu sama dengan yang ditemukan dalam jenazah Tjeng Kie.

 

Sedang Asyik Adu Ayam

Liem Soe King tidak tinggal diam. Ia terus berusaha mengumpulkan bukti kejahatan Oey Tambahsia, dengan bergegas pergi ke Tangerang. Di sana, ia berhasil membujuk Gundjing agar bersedia menjadi saksi dalam perkara hilangnya Kakak kandungnya.

Di depan Asisten Residen, Gundjing mengungkapkan kecurigaannya terhadap Piun, yang secara sembrono mengenakan kain batik milik Kakaknya yang hilang (lihat: Suhian Sang Hidung Belang, pen.).

Polisi menginterogasi Piun dan jawara itu terpaksa mengaku jika atas perintah majikannya, bersama Sura, ia membunuh Mas Sutedjo dan menguburkan jenazahnya di sebuah kebun tebu, dalam lingkungan tanah milik Oey Tambahsia.

Polisi mencari Oey Tambahsia, yang ternyata tidak ada di rumahnya. Di Bintang Mas, Ancol, pria kaya itu pun tidak kelihatan bayangannya. Ternyata, sejak pagi, ia sudah berangkat ke Pasar Asem Reges, Pecenongan, Jakarta Pusat. Polisi menemukannya di arena penyabungan ayam. Para petaruh gempar, karena mengira polisi menggrebek tempat taruhan gelap itu.

Petugas menghampiri Oey Tambahsia. Ia sangat terperanjat,tapi yakin kalau uangnya akan menyelamatkannya. Meski, ia menyadari jika ia akan dikenakan tuduhkan berat, bukan sekadar bersengketa dengan Tan Eng Goan.

 

hukum gantung tempo dulu-1

Tiang Gantungan Mengakhiri Segalanya

Akhirnya Oey Tambahsia diseret ke tahanan polisi, di Batavia. Tempat tahanannya dijaga ketat, langsung di bawah pengawasan schout(kepala polisi). Tapi, Oey Tambahsia tidak kehilangan akal, ia mencoba menyuap seorang polisi agar menyampai pesan kepada adik kandungnya (Oey Makau). Opas itu disuruh memberikan tongkatnya yang bertombol emas kepada Oey Makau, di rumah.

Namun, sang opas ditangkap ketika akan memasuki rumah Oey Makau di Patekoan. Polisi memeriksa tongkat itu. Ternyata, didalam tombolnya terdapat kertas yang memuat pesan agar Oey Makau menyuruh Piun dan Sura kabur secepatnya. Kesaksian mereka bisa memberatkan perkaranya. Surat itu, kelak malah menjadi bukti yang memberatkan di sidang pengadilan.

Di sidang Pengadilan Landraad (sekarang, Museum Fatahillah, pen.), Oey Tambahsia terus menyangkal semua tudahan.Walau, tuduhan jaksa didukung oleh saksi-saksi dan bukti-bukti yang meyakinkan. Keluarga besar Oey juga meminta jasa seorang pengacara terkenal masa itu yaitu Mr.B. Bakker, yang mendapat bayaran tinggi, di samping hadiah 100 gulden kalau berhasil menyelamatkan Oey Tambahsia.

Betapa pandainya Mr. Bakker, ia tidak bisa membantah bukti yang diajukan penuntut umum. Akhirnya, hakim ketua mejatuhkan hukum mati di tiang gantungan kepada Oey Tambahsia.

Mr. Bakker mengajukan banding. Mahkamah Agung pun meneliti lagi perkara itu. Tapi, kemudian, membenarkan dan memperkuat keputusan pengadilan sebelumnya.

Kini, harapan satu-satunya hanyalah meminta grasi kepada gubernur jenderal. Setelah lama menunggu, tibalah surat ketetapan yang menyatakan pejabat tinggi itu menolak permohonan pengampunan Oey Tambahsia.

Pada hari yang ditentukan untuk pelaksanaan hukuman matinya, Oey Tambahsia menaiki mimbar tempat tiang gantungan dengan sikap tenang. Dandanannya rapi, seperti kebiasaan hidupnya sehari-hari. Ia mengenakan baju Cina dan celana putih. Wajahnya berseri. Bersamanya, digantung pula Piun dan Sura.

Namun, dengan tangan terikat, ia masih sempat berbisik kepada algojo, “Dalam kantung baju aku ada selembar uang kertas untuk kau punya upah. Tapi, aku minta kau jangan kelewat bengis menjerat dan menekan batang leherku”.

Hukuman ini, disaksikan banyak orang yang memenuhi halaman depan Gedung Balai Kota Stadhuis (kini, Museum Fatahillah, pen.) yang terletak di Jalan Falatehan I, Jakarta Barat. Kala itu, tiap tertuduh yang akan dihukum gantung, pelaksanaan eksekusinya dilakukan di hadapan orang banyak.

Oey Tambahsia pun digantung dan ia menemui ajal dalam usia 31 tahun. Maka, berakhirlah riwayat sang playboy Betawi yang menggemparkan seluruh lapisan masyarakat Betawi dan menjadi buah bibir sampai lama itu. Kisahnya banyak ditulis menjadi buku atau syair. (Tamat)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!