Nestapa Sang Wanita Penghibur Papan Atas

*Russanti Lubis

Dari berbagai sumber

 

Inilaki.com — Komisaris Toen Reumpol (baca: Reumpol, pen.), Kepala Kepolisian Batavia, menangani langsung kasus tewasnya Fientje de Feniks (baca: Fientje, pen.). Ia memeriksa setiap saksi, terutama teman-teman seprofesi gadis malang itu, dengan teliti.

fientje-de-feniksAkhirnya, Reumpol menemukan titik terang ketika seorang wanita penghibur yang merupakan teman Fientje bersaksi. Pekerja Seks Komersial yang bernama Raonah itu, mengatakan jika ia melihat dari sela-sela bilik bambu (sumber lain menyatakan di belakang rumah pelacuran milik Umar, sang germo, pen.) ketika Fientje bertengkar hebat dengan seorang pria bernama Willem Frederick Gemser Brinkman (baca: Brinkman,pen.), lalu dicekik oleh pria yang menjadi pelanggan setianya itu.

Brinkman bukan orang sembarangan. Ia berasal dari kalangan atas dan salah satu anggota Societeit Concordia, yang sebagian besar anggotanya merupakan para pembesar Belanda. Pada masa itu, Concordia alias Rumah Bola (lokasinya sekarang berada di Kantor Sekretaris Negara, Kawasan Harmoni, pen.) adalah wadah bagi warga elite Batavia bersosialisasi sambil menikmati makan ala Hindia Belanda,yang mewah dan melimpah. Singkat kata, Brinkman merupakan sosok berpengaruh di Batavia saat itu.

Karena itu, Brinkman dengan sigap menangkal tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Apalagi, baginya, keterangan seorang pelacur pribumi itu tidak ada artinya. Ia juga yakin, mana mungkin tuan besar seperti dirinya akan dikenakan hukuman hanya karena membunuh seorang pelacur indo. Pokoknya, si Brinkman ini merasa aman 100% dari semua tuduhan.

fientje

Namun, jauh panggang dari api. Ia segera dibawa ke Raad van Justitie (pengadilan) untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pada masa itu, seorang Belanda tulen di adili lantaran membunuh seorang indo, tentu sangat luar biasa. Bahkan, konon, sidang pengadilan terhadap Brinkman sangat gaduh. Apalagi, ia dibela Mr. Hoorweg, pengacara terkenal.

Dalam siding, Raonah sempat dituding berbohong dan memberikan keterangan palsu oleh pengacara Brinkman. Hingga, pengadilan sempat mengirim tim untuk mengecek tempat kejadian perkara pembunuhan di lokalisasi milik Umar.

Tapi, Raonah yakin pada pendapatnya. Dia berkata pada ketua majelis hakim, “Tuan, saya seorang perempuan. Jadi, saya penakut. Tapi, saya katakan sekali lagi, laki-laki itu yang melakukan pembunuhan!”

Dan, pengadilan pun memutuskan Brinkman dihukum mati. Ia sangat frustasi dengan hal ini dan sama sekali tidak pernah menyangka akan diperlakukan seperti itu. Hingga, pada akhirnya, belum sempat tali gantungan itu menempel di lehernya, pria ini mengakhiri hidupnya lebih dulu di penjara dengan cara bunuh diri.

Lantas, apa yang melatarbelakangi Brinkman membunuh Fientje? Nantikan kelanjutannya dalam Keadilan Untuk Wanita Tercantik di Batavia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!