Nestapa Sang Wanita Penghibur Papan Atas 

*Russanti Lubis

Dari berbagai sumber

 

Inilaki.com — Setelah proses pengadilan yang panjang, akhirnya pengadilan pun memutuskan Brinkman dihukum mati. Brinkman yakin eksekusi tidak akan jadi dilakukan. Menurutnya, tidak mungkin seorang kulit putih terhormat seperti dirinya dihukum mati hanya karena membunuh pelacur indo.

Ia juga percaya pengaruh teman-temannya di Societeit Concordia. Mereka pastiakan membelanya habis-habisan, setidaknya,membantu memperingan hukumannya. Tapi, ternyata, anggapannya keliru.

Brinkman tetap dihukum. Tapi, lantaran stres berat, ia mati bunuh diri di selnya sebelum eksekusi dilakukan.

Belakangan diketahui bahwa sebenarnya Brinkman tidak membunuh Fientje, saat itu juga. Tapi, ia menyuruh pembunuh bernama Silun bersama dua anak buahnya. Silunlah yang mencekik Fientje hingga tewas.

Namun, ternyata, Brinkman belum membayarnya lunas. Ia baru membayar persekot atau uang mukanya saja. Silun menyesal sekali. Bukan karena tertangkap, melainkan karena bayarannya belum penuh. Sementara, Brinkman sudah keburu tewas. Tidak ada informasi, bagaimana nasib Silun selanjutnya. Dalam arti, dihukum seumur hidup atau dihukum mati.

 

fientje 2

Silun bersama dua anak buahnya

Apa motifnya?

Sebagian besar pihak meyakini Brinkman membunuh Fientje karena cemburu. Ia sebenarnya ingin menjadikan sang primadona sebagai gundiknya. Tapi, ternyata, Fientje masih melayani laki-laki lain. Brinkman pun terbakar emosi. Versi lain menyatakan jika Fientje menolak dan lebih memilih terus menjalani pekerjaannya sebagai kupu-kupu malam.

Hal itulah yang rupanya membuat Brinkman gelap mata. Ia lalu mengutus Pak Silun dan dua anak buahnya untuk mengakhiri hidup Fientje.

 

Catatan

Saking kesohornya kasus Fientje de Feniks ini, selain muncul dalam Kesusteraan Melayu Tionghoa karangan Tan Bon Kiem yang dinilai paling terkenal dan menginspirasi para penulis lain, ia juga diulas oleh Peter van Zonneveld dalam 75 halaman buku De Moord op Fientje de Fenicks: een Indische Tragedie yang terbit tahun 1992.

Rosihan Anwar dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 1 juga mengulas sedikit banyak kisah Fientje ini. Sementarat Pramoedya Ananta Toer, mengadaptasi cerita ini ke dalam alur novelnya yang berjudul Rumah Kaca (1988).

Di sini, nama Fientje de Feniks diubahnya menjadi Rientje de Roo, seorang pelacur yang memiliki pelanggan bernama Jacques Pangemanan. Tapi, dalam novel itu tidak diceritakan siapa dan bagaimana Rientje de Roo terbunuh. (selesai)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!