Kebahagiaan Hidup Saya: Bisa Berbuat Lebih Besar dan Lebih Baik Lagi

Hampir setiap pengusaha pernah mengalami bangkrut. Tapi, bangkit dari kebangkrutan merupakan sebuah KEHARUSAN. Sebab, proses jatuh dan bangun itu bukan hanya membuat kita menjadi kuat, melainkan juga berperan besar dalam proses pendewasaan diri dan menjadikan kita semakin bijak dalam menjalani kehidupan. Banyak pelajaran hidup, yang diperoleh dari ritual jatuh dan bangun bagi seorang pengusaha. Bukankah pelaut yang ulung dilahirkan dari ombak yang tinggi?

Pengusaha itu mempunyai kemewahan/kebebasan untuk berkreasi. Kebebasan itulah, yang tidak dapat dibeli oleh profesi apa pun. Sementara kreasi itu, benar-benar datang dari hati

Inilaki.com — Bosan bekerja di bidang yang itu-itu saja dan ingin melepaskan diri sebagai orang suruhan, ternyata bisa dijadikan modal untuk membangun usaha sendiri. Dan, itulah yang dilakukan Ardantya Syahreza.

Usahanya yang pertama memang pernah berada di puncak kejayaan. Tapi, kemudian juga pernah terpuruk hingga titik nadir alias bangkrut. Namun, dengan tekad tidak ingin kebebasannya terpasung lagi dan dukungan penuh dari sang istri, Sofia Ambarini, pria yang akrab disapa Dacil ini bangkit kembali.

Selanjutnya, dalam tempo delapan tahun dan usia belum genap 37 tahun, ia telah memiliki tiga perusahaan di bawah bendera PT Indocre Lintas Usaha (Indocre). Bukan cuma itu, satu perusahaannya yang pertama mampu membukukan omset per bulan sebanyak milyaran rupiah, sementara satu perusahaan yang lain ratusan juta rupiah. Berikut, bincang-bincang Inilaki.com dengan Bapak dari Reo dan Leia ini.

 

Kapan Anda mulai bekerja?

Saya mulai bekerja untuk pertama kalinya tahun 2000, di lembaga riset Nielsen sebagai staf di bagian research executive. Pada pertengahan tahun 2002, saya pindah ke perusahaan riset yang lain yakni Exquisindo Global Research sebagai research manager. Meski, dunia riset itu menarik—karena kita belajar bagaimana mengulik konsumen dalam suatu group discussion—tapi membosankan. Lantaran, yang saya buat itu hanya sebuah finding/rekomendasi.

Imbasnya, tahun 2003, saya pindah lagi. Kali ini ke dunia advertising, yang bagi saya berbeda sekali dengan dunia kerja saya saat itu. Dunia advertising adalah dunia yang kreatif. Skill saya di dunia riset pun terpakai di sini. Mengingat, untuk membuat iklan atau komunikasi harus mengetahui terlebih dulu apa yang dimaui klien. Di sini, saya menempati posisi sebagai development manager, dengan tugas seperti membuat strategi komunikasi. Pekerjaan ini, saya jalani hingga tahun 2005. Sebab, ternyata, saya merasa bosan lagi.

Dari situ, saya menyadari bahwa saya menyukai semua dunia kerja yang saya jalani. Tapi, saya bukan tipikal orang yang suka disuruh-suruh. Selain itu, saya menemukan opportunity dari para klien yang saya temui.

Pada umumnya, pengusaha Indonesia akan menanyakan apa imbal baliknya jika mereka mengeluarkan dana untuk iklan usaha mereka. Dalam arti, sejauh mana imbas iklan yang mereka danai itu terhadap perusahaan mereka. Atau, bagaimana mereka bisa mengetahui efek dari iklan produk/perusahaan mereka terhadap konsumen yang dituju.

img_1018

Melihat adanya opportunity itu, akhirnya saya membuat sebuah perusahaan sendiri dengan modal nekad. Dengan bantuan seorang teman yang brand manager sebuah perusahaan, lalu saya men-set up sebuah marketing company yang saya beri nama Exigo (PT Marketing Komunikasi Indonesia) pada September 2005. Sementara modal usaha, sebesar Rp500 juta, saya pinjam dari orang tua.

Exigo bergerak di bidang marketing communication. Kalau kita berkomunikasi ‘kan bisa melalui macam-macam media, misalnya iklan radio, iklan TV, iklan media cetak, tapi kami bentuknya lebih ke event. Jadi, berbeda dengan iklan melalui media massa yang tanggapannya tidak diketahui, maka dalam bentuk event, setidaknya ada database yang bisa dihitung/dicatat.

Cakupannya lebih luas ketimbang EO (Event Organizer) yang hanya penyelenggara acara. Karena, kami juga harus membuat programnya agar relevan dengan masyarakat yang menjadi target market-nya.

Tahun 2006, saya meng-hire adik saya. Sehingga, perusahaan ini seperti perusahaaan keluarga. Saya juga meng-hire orang India agar terkesan keren. Karena, ada orang asing yang bekerja di perusahaan saya.

Sampai, suatu ketika, saya merasa stagnant. Akhirnya, saya memanggil teman-teman di tempat kerja saya dulu dan minta inject lagi agar dapat menggaji mereka. Harapan saya, akan muncul talent-talent dan network-network baru untuk bisnis-bisnis baru.

Harapan ini, terwujud pada tahun 2006–2007. Saya menikmati klien-klien besar. Saya mengerjakan proyeknya Kidzania, BCA, Kalbe, Danone, dan sebagainya. Nilai proyek yang dulu hanya Rp60 juta, berkembang menjadi Rp500 juta, Rp700 juta, Rp2 milyar, dan naik terus. Tahun itu, ongoing very good.

Tapi, pada akhir tahun 2007, muncul masalah internal. Saya baru menyadari bahwa ternyata di kantor saya ini terlalu banyak orang (25–30 orang). Padahal, billing belum stabil.

Masuk tahun 2008, tepatnya Januari–Juli, saya melihat kok bisnis ini semakin seret. Sulit sekali memenangkan suatu pitching. Hingga, akhirnya, setiap bulan saya hanya membayar gaji karyawan saja. Kondisi ini, semakin lama semakin ngedrop sampai akhirnya bangkrut. Saya mengatakan kepada para karyawan bahwa saya tidak bisa lagi membayar gaji mereka. Lalu, satu persatu, karyawan saya resign, yang tertinggal cuma sekretaris dan OB (office boy).

screenshot_2013-07-25-08-00-04Waktu kejadian itu, saya baru setahun menikah dan anak pertama kami baru saja lahir. Saya sempat berpikir, untuk bekerja sebagai karyawan lagi. Meski, saya tidak bisa membayangkan kebebasan saya akan terpasung lagi. Akhirnya, saya keukeuh usaha sendiri dengan modal yang ada yaitu portofolio. Apalagi, menurut orang-orang, saya mempunyai kredibilitas.

Akhirnya, saya mendapatkan proyek-proyek baru, tapi bekerja sama dengan teman yang lainnya lagi. Istilahnya, kerja saweran: saya hanya “berjualan” klien, sementara teman saya itu yang memberi modal kerja dan melakukan eksekusinya. Dalam perjalanannya, kami mendapat klien Sari Husada, Craft, dan sebagainya.

Imbasnya, saya mempunyai tabungan dan sudah bisa membangun usaha sendiri, di luar Exigo yang sedang “istirahat”. Usaha baru ini saya jalankan hanya beserta istri. Selanjutnya, saya mampu meng-hiremanager, account executive, dan bagian kreatif. Tahun 2009, kami semakin naik. Bahkan, tahun 2010, kami mendapat klien Nestle.

Singkat kata, memasuki tahun 2012, semuanya berjalan lancar kembali: Exigo hidup kembali, bisa pindah kantor dari Kemang Utara, Jakarta Selatan, ke Gedung Adveco II di Jalan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, mampu membeli rumah di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, dan mampu meng-hire general manager yang kemudian saya tugaskan untuk mengurusi PT Marketing Komunikasi Indonesia. Sementara, saya hanya melihat dari jauh, kadang-kadang saja saya “turun”. Terakhir kali saya pegang (tahun 2012), Exigo mampu membukukan omset sebesar Rp8 milyar/bulan.

 

Tapi, Anda lebih dikenal sebagai CEO PT Kuliner Nusantara Sejahtera Indonesia (K-Food)?

Pada saat yang bersamaan (tahun 2005), saya membeli franchise Bakso Kota Cak Man. Ini terjadi, ketika saya pulang kampung dan makan di warung bakso itu. Di sana, saya melihat kertas-kertas yang ditempel di dinding yang menawarkan franchise.

Sebagai orang Malang yang mengetahui market Jakarta, saya melihat bakso-bakso di sini yang mengusung embel-embel Malang itu banyak banget. Tapi, tidak ada yang Malang banget. Lalu, saya ingin membawa Bakso Kota Cak Man ini ke Jakarta.

thumb_soursally_penandatangananmasterfranchisesoursallymini_1Berbekal ilmu marketing yang saya miliki, saya permak dia, lantas saya buka outlet franchise saya di Plaza Semanggi. Saat itu, belum saya anggap bisnis, sekadar latihan kalau nanti mempunyai usaha sendiri.

Dalam perjalanannya, saya bertemu dengan Hendi Setiono, pemilik Kebab Turki Baba Rafi. Ternyata, Hendy sedang mendekati Donny Pramono, pemilik Sour Sally. Hendy membutuhkan orang yang dapat meng-handle kerja sama antara Sour Sally dengan Baba Rafi. Dan, Hendy meminta saya membantunya. Jadi, boleh dianggap saya joint dengan Hendy untuk mengelola franchise Sour Sally Mini. Dan, jadilah saya Master Franchise Sour Sally Mini.

Misi K-Food yakni mengapresiasi kuliner Indonesia. Ketika menekuni dunia kuliner, saya menyadari bahwa kuliner Indonesia sangat banyak dan sama layaknya diangkat ke permukaan dengan makanan-makanan dari luar. Itulah esensinya.

Sour Sally, saya urus dengan serius. Dengan pemikiran, bisnis kuliner saya akan naik satu step lagi. Ini antusiasme baru, bisnis baru yang bisa membuat bisnis saya berkembang. Apalagi, bisnis kuliner saya cuma begitu-begitu saja. Dari dulu, saya hanya mempunyai tiga cabang Bakso Kota Cak Man (Plaza Semanggi, Cibubur Junction, dan Margo City).

Tentang nama K-Food, baru muncul ketika saya membuka outlet franchise Bakso Kota Cak Man di Cibubur Junction. K-Food berada di bawah PT Kuliner Nusantara Sejahtera Indonesia di mana perusahaan ini baru dibentuk tahun 2012. K-Food dibangun dengan modal Rp60 juta dari “bank pribadi” dan satu setengah tahun kemudian sudah balik modal.

Misi K-Food yakni mengapresiasi kuliner Indonesia. Ketika menekuni dunia kuliner, saya menyadari bahwa kuliner Indonesia sangat banyak dan sama layaknya diangkat ke permukaan dengan makanan-makanan dari luar. Itulah esensinya.

Kini, Bakso Kota Cak Man sudah dalam genggaman dengan omset sekitar Rp200 juta/counter/bulan. Sate Buntel Solo juga sudah di-launching September 2013. Sedangkan Sour Sally, meski froyo (frozen yogurt) bukanlah kuliner Indonesia, tapi hasil kreasi dari orang Indonesia. Jadi, everything should be Indonesian.

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa garis merah Indocre yaitu saya bergerak dalam bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan kreatif, Indonesia, dan kepemudaan. Saya juga menyukai usaha-usaha yang berhubungan dengan anak-anak muda. Sehingga, lahirlah Generasi Muda ID.

 

Apa itu Generasi Muda ID?

Selama saya berwirausaha, saya merasakan sulitnya mencari kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang baik. Di sisi yang lain, saya suka sharing dengan para mahasiswa. Akhirnya saya membuat Generasi Muda ID. Karena, saya melihat issue besar bahwa anak-anak muda zaman sekarang secara mental, wawasan, dan keahlian belum memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan perusahaan aktif. Dan, jumlah mereka sangat banyak.

img_8194

Dari sini, saya baru ngeh jika pengangguran itu terjadi bukan karena tidak ada pekerjaan, melainkan tidak matching-nya kualitas yang diproduksi dari perkuliahan ke dunia pekerjaan. Jadi, di sini ada gap. Karena itu, saya membuat Generasi Muda ID dengan tujuan sederhana yaitu mem-break the gap. Untuk itu, saya datang ke kampus-kampus offering sesuatu yang baru yang tidak mereka dapatkan di kampus.

Awal tahun 2013, saya membentuk Generasi Muda ID dengan melakukan berbagai roadshow. Awalnya, roadshow ini saya lakukan dengan gratis, dengan pembicara para CEO. Saya juga membuat website dan berharap nantinya akan ada sponsor yang mensponsori kegiatan keliling ini.

Ternyata, tidak berjalan sesuai harapan. Akhirnya, saya mengubah polanya. Roadshow tetap gratis. Karena, antusiasmenya besar sekali. Nah, untuk kota-kota yang antusiasmenya besar itu, saya akan membuatkan sekolah-sekolah kecil, semacam sekolah pelatihan yang memberi intensive class pada para mahasiswa, tapi berbayar.

Secara pribadi, saya ingin Generasi Muda ID di-acknowledge di dunia usaha bahwa anak-anak yang sudah pernah datang ke sini very qualified people. Di sisi lain, ini sociopreneur saya. Saya senang melakukan hal ini. Karena, seakan-akan saya ada manfaatnya jadi orang.

 

Apa yang menjadi kekuatan Anda ketika menghadapi usaha yang jatuh bangun seperti ini?

Sekarang, saya sangat paham bahwa pengusaha itu mempunyai kemewahan untuk berkreasi. Kebebasan itulah, yang tidak dapat dibeli oleh profesi apa pun. Saya bisa mengatur volume kekencangan lari saya atau justru mau santai dulu. Kebebasan inilah, yang tidak dapat saya tukar dengan apa pun. Dan, kreasi itu benar-benar datang dari hati saya. Itu happiness in life. Tapi, tentu saja, secara financial juga harus kuat. Sehingga, bisa berbuat banyak, sekolah dengan baik, dan sebagainya.

Saat ini, somehow, saya sudah happy. Tapi, tidak berarti kita sudah stop. Happiness berikutnya: kamu harus appreciate your life, berbuat lebih besar lagi, dan lebih baik lagi. Itu tujuan hidup saya.

 

Sepertinya, Anda tidak akan berhenti di Indocre (dan divisi-divisinya) saja?

Mungkin saja. Saya mempunyai banyak ketertarikan dalam usaha. Pokoknya berkarya.

 

Sejauh mana peran istri?

Besar sekali. Ketika saya harus keluar dari lingkungan keluarga yang terbilang mapan (Ayah Dacil berprofesi sebagai dokter, red.), karena ingin mandiri, ternyata istri lebih kuat daripada saya. Mungkin, karena istri berasal dari keluarga yang harus struggle untuk mendapatkan segala sesuatunya. Dari istri, saya belajar menghargai segala hal, belajar bahwa apa pun yang kita terima merupakan sebuah keberkahan.

Bagi saya, istri adalah soulmate. Bukan sekadar pasangan hidup, tapi juga juga partner hidup saya. O ya, saya bertemu dengan istri di HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Jadi, kami sama-sama pengusaha.

 

screenshot_2013-04-10-10-11-57

Ada sebuah pernyataan bahwa izin/restu dari pasangan, baik itu istri maupun suami, terhadap usaha yang akan dijalankan merupakan sebuah berkah. Percayakah?

Sangat percaya!

 

Target ke depan?

Saya ingin membesarkan usaha ini, mendapatkan omset yang lebih besar, dan bisa lebih berperan dalam masyarakat. (Russanti Lubis)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!