Q: Halo Bung M. Saya ingin bertanya. Kalau boleh tahu, apasih yang bisa menjadi alasan, kalau saya ingin mengajukan gugatan perceraian ke suami? Di mana saya bisa ajukan gugatan perceraian tersebut? Dan bagaimana cara mengajukan gugatan cerai tersebut? Terima kasih atas perhatiannya. Salam, Yati-Jakarta

A: IbuYati yang terhormat. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan alasan agar perceraian itu dapat dilaksanakan.

Bagi yang beragama non-Muslim (Kristen/Katolik/Budha/Hindu) alasan yang dapat mendasari terjadinya perceraian diatur dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, dan alasan-alasan untuk mengajukan gugatan perceraian adalah:

  1. Salah satu pihak baik suami/istri melakukan hubungan intim diluar ikatan pernikahan (zina), mengkonsumsi minuman beralkohol (pemabuk), berjudi, dan kegiatan lainnya yang dapat merugikan kedua belah pihak dan tidak dapat disembuhkan.
  2. Salah satu pihak, baik suami/istri meninggalkan pihak lainnya selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin dan alasan yang sah.
  3. Salah satu pihak, baik suami/istri, menjalani hukuman penjara selama 5 tahun atau lebih berat hukumannya.
  4. Salah satu pihak, baik suami/istri melakukan tindak kekerasan/penganiayaan yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak, baik suami/istri mengalami cacat badan atau penyakit menyebabkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri.
  6. Antara suami/istri secara terus menerus selalu terjadi perselisihan dan pertengkaran sehingga tidak ada lagi harapan untuk selalu hidup bersama/rukun.

Sedangkan bagi yang beragama Islam alasan yang dapat mendasari terjadinya perceraian diatur dalamPasal 116 Kompilasi Hukum, dan pada dasarnya yang dapat menjadi alasan diajukannya gugatan perceraian adalah sama dengan hal yang telah diatur dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, hanya saja terdapat tambahan alasan lainnya bagi warga yang menganut agama Islam, antara lain :

  1. Suami melanggar taklik-talak.
  2. Salah satu pihak pindah agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Lantas, bagaimana cara mengajukan gugatan cerainya?

Sebelumnya Ibu Yati perlu membuat surat gugatan perceraian berikut alasannya yang kemudian didaftarkan di Pengadilan yang berwenang.

Bagi yang beragama Islam, apabila suami yang mengajukan permohonan perceraian maka didaftarkan di Pengadilan Agama yang terletak di wilayah tempat tinggal istri, hal tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 129 Kompilasi Hukum Islam.

Apabila istri yang mengajukan gugatan perceraian maka gugatan perceraian tersebut didaftarkan di Pengadilan Agama yang terletak di wilayah tempat tinggal Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 132 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam.

Sedangkan bagi yang beragama non-Muslim (Kristen/Katolik/Budha/Hindu), dapat mengajukan gugatan perceraiannya di Pengadilan Negeri yang terletak dalam wilayah domisili Tergugat. Sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan)

Sekian penjelasan dari saya, semoga dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan. Salam, Bung M. (www.msmlaw.id)

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar permasalahan hukum, Anda dapat mengisi FORMULIR INI dengan mengisi biodata dan alamat email. Setiap pertanyaan akan di jawab langsung oleh Bung M dan akan kami muat di dalam artikel website ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!