Paulus Warsono Broto

Kekuatan besar dibangun dari gabungan kekuatan lain yang diikat secara harmonis. Itulah kekuatan sebuah sinergitas, The synergy of energy.

Nama adalah sebuah doa yang disematkan. Pada setiap kata yang dipilih terkandung kedalaman makna dan harapan untuk diwujudkan. Pun demikian dengan dipakainya nama Dewata sebagai gerbang utama untuk menjadi perusahan sumber daya alam berkelas dunia yang penuh berkah. Sebagaimana diungkapkan oleh CEO Dewata Paulus Warsono Broto.

Diakui pria yang akrab disapa Paulus, nama Dewata merupakan pengejawantahan dari Darma Putera Wahana Pratama. Darma berarti niat, pikiran serta keinginan baik yang ingin direalisasikan lewat cara baik. Putra adalah putra-putri kita. Dan,Wahana merupakan sarana atau kendaraan perusahaan. Sedangkan Pratama adalah yang terbaik. “Jadi Dewata adalah: doa saya kepada Tuhan agar diberikan perusahaan yang bisa menjadi tempat terbaik untuk putra-putri pilihan guna memberikan darma atau amalan terbaiknya,” ujarnya, lantas tersenyum.

Untuk mencapai tujuan menjadi perusahaan terbaik, Dewata membangun pondasi kuat sebagai dasar melangkah. Pondasi kuat itu terdiri dari beragam unsur yang disatukan kemudian saling menguatkan satu sama lain. “Pertama tentunya kita harus mengooptimalkan apa yang kita miliki. Mulai dari pikiran, tenaga, sumber daya alam, organisasi di dalam dan di luar diri kita serta beberapa hal lain,” tutur Paulus. Setelah itu, lanjut pria berkacamata ini mengatakan, dalam upaya optimalisasi itu semua diterjemahkan lewat bentuk pemetaan semua sumber daya yang ada dengan baik. “Dengan demikian kita menjadi tahu kekuatan dan kelemahan kita. Dan, sekaligus kita bisa melihat di hadapan kita apakah ada sebuah  opportunity ataukah ancaman.”

Semuanya kemudian dituangkan ke dalam blue print guna menyusun sebuah grand strategy ke depan. ”Itulah yang kita maksudkan dengan kemampuan untuk menyinergikan energi yang ada di dalam diri kita. Atau sederhanya The synergy of energy,” papar bersungguh-sungguh.

Tak heran, jika The Synergy of energy kemudian menjadi tagline sekaligus semangat Dewata dalam mengembangkan bisnisnya. Lalu seperti apa  motto itu diimplementasikan baik dalam skala kecil perusahaan maupun lingkup luas di tengah lingkungan kemasyarakatan. Berikut petikan wawancara inilaki.com dengan CEO Dewata Paulus Warsono Broto.

Visi Dewata adalah to be blessed world class natural resources company, bisa dijelaskan maksudnya.

Artinya kita membangun dan mengelola grup perusahaan dengan bisnis inti pada pengusahaan sumber daya alam yang meliputi: pertambangan batubara, pembangkitan energi listrik dan pengelolaan hutan. Pada saat yang sama kita juga membangun dan mengelola usaha di luar bisnis inti yang memiliki nilai tambah guna mendukung bisnis inti. Selanjutnya kita kemudian membangun aliansi strategis dengan institusi keuangan internasional dalam penguasaan cadangan batubara dan pembangkitan energi listrik.

 pwb-02

Kita adalah bangsa yang merdeka. Jadi kita berhak mengelola sumber daya alam yang kita miliki untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Apakah itu terkait dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia?

Kita tahu dan melihat bahwa Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia cukup beragam. Mulai dari minyak bumi, gas alam, batubara, tembaga, nikel, mangan hingga air dan tanah yang subur. Semuanya merupakan sumber kekayaan dan energi yang butuh pengelolaan dengan baik untuk mewujudkan suatu kesejahteraan bagi bangsa Indonesia secara luas. Kalau ada sumber daya yang hebat maka sudah menjadi hal yang jamak jika menarik interest banyak orang. Apalagi kalau kita tidak mampu menanganinya dengan baik dan benar, maka yang terjadi alam yang penuh dengan berkah ini menjadi sumber konflik dan intrik. Kita adalah bangsa yang merdeka. Jadi kita berhak mengelola sumber daya alam yang kita miliki untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Peran Dewata sendiri dalam pengelolaan SDA ada di mana?

Jika ini boleh dikatakan sebagai kontribusi dan peran kita dalam mengelola SDA Indonesia, maka saya ingin mengatakan bahwa; optimalisasi pengelolaan SDA secara baik dan benar sesungguhnya merupakan bagian dari memanfaatkan kekayaan alam secara bijak. Sekarang coba kita tanya apakah kita sudah benar dalam mengelola sumber daya alam ini? Mulai dari inventarisasi sampai cara pengolahannya. Misalnya, ada orang diberikan izin menambang untuk satu wilayah tertentu. Karena dia tidak mengetahui teknik menambang, maka dia akan undang kontraktor untuk menggarap tanahnya. Ada lima sampai sepuluh kontraktor di sana. Akibatnya tidak semua kandungan batubara bisa ditambang dengan baik.

Kenapa? Karena cara menambangnya acak-acakan dan tidak didasarkan pada perencanaan operasi tambang yan baik. Ketika memulai tahapan eksplorasi, bila tidak dilakukan dengan baik maka rentetannnya tambang itupun akan dioperasionalkan dengan cara yang tidak baik. Menyedihkannya dalam skala makro Indonesia ya seperti itu. Bahkan antara lembaga-lembaga yang ada mulai dari kementerian ESDM, Keuangan, Kehutanan, Dalam Negeri, Bupati, Gubernur dan DPRnya apakah sudah bersinergi? Karena yang terjadi sekarang ini adalah upaya mencari penonjolan diri atas masing-masing.

Artinya regulasi tidak mendukung untuk menjadikan sumber daya alam kita bisa digunakan dan diperuntukkan bagi kemakmuran rakyat?

Jika bicara regulasi atau Undang-Undang (UU), kita lebih sering berpolemik dengan UU tersebut hingga tidak jalan-jalan, sampai akhirnya diganti lagi UU-nya. Kalau begini terus, kita tidak akan kemana-mana. Istilahnya: Jalan ditempat. UU kan seharusnya mendorong ability atau kemampuan kita. Artinya; ketika belum ada campur tangan pemerintah kemampuannya 90% begitu pemerintah turun tangan menjadi 150%. Kalau di Indonesia tidak seperti itu. Ketika belum ada campur tangan pemerintah kemampuannya 90%. Tapi begitu pemerintah terjun dan ada UU-nya, kemampuannya turun menjadi 20%.

Empat pilar tersebut adalah: Integrity, Team Work, Continuous Learning, Business Achievement Orientation. Kita juga ingin mengembangkan semangat homo dewatalust.

Lalu bagaimana Bapak mengaitkan antara pengelolaan sumber daya alam yang baik tersebut dengan sebuah rule of business?

Dalam menentukan sebuah strategi harus diawali dengan pemetaan yang baik. Pemetaan yang baik itulah pijakan untuk membuat strategi yang baik pula. Tanpa itu semua kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Dan disinilah kita memerlukan sebuah kecerdasan untuk membuat strategic plan yang komprehensif untuk bisa dioperasionalkan dengan baik. Adapun untuk menciptakan kecerdasan tersebut kita harus tahu kecerdasan mana saja yang harus ditingkatkan. Di Dewata upaya untuk meningkatkan kecerdasan tersebut kita namakan dengan core competence dengan empat pilar utama.

Empat pilar tersebut adalah: Integrity, Team Work, Continuous Learning, Business Achievement Orientation. Kita juga ingin mengembangkan semangat homo dewatalust. Artinya: kita ingin mendidik manusia-manusia yang berkepridian “dewata”. Bekerja berkualitas dalam proses dan hasil adalah kehormatan. Tidak mudah memang, tapi kita terus dorong untuk menuju ke sana.

Saat ini apa saja Line of Business yang telah dikembangkan Dewata?

Dewata berdiri pada  5 April 2001 sebagai produser dan pemasok batubara. Seiring dengan perjalanan waktu Dewata berkembang sebagai sebuah holding yang membawahi beberapa perusahaan yang bergerak di sektor mining maupun non mining.

Strategi apa yang dilakukan Dewata dalam mendapatkan suntikan dana untuk mempercepat gerak usaha? Terutama dalam hal sumber pembiayaan.

Sebenarnya kita memiliki beberapa sumber. Mulai dari dana sendiri, pinjaman: baik pinjaman murni maupun mezzanine loan, obligasi, private equity serta dana masyarakat (IPO). Untuk dana masyarakat, masih dalam tahap rencana. Tapi kebanyakan, strategi kita masih berasal dari dana sendiri atau pinjaman dengan model share kepemilikan saham. Jadi bisa dikatakan kita lebih banyak menggunakan private equity.

Terkait dengan gonjang-ganjing harga batubara seperti sekarang ini, apa kiat Dewata untuk menghadapinya?

Khusus perbatubaraan, kita tengah menyiapkan resources yang tidak mudah terkena gonjang-ganjing dan menciptakan margin yang baik seperti: coking cool. Kita juga punya target-target seperti: rencana meningkatkan produksi batubara dari  1 MT ke 3 MT dalam 5 tahun. Melakukan akuisisi KP/IUP batubara dan diversifikasi usaha antara lain: kehutanan, energi, dan properti. Lalu peningkatan kualitas batubara dan merintis fabrikasi komponen pembangkit listrik dan produk kehutanan. Dengan demikian kita tidak tergantung satu unit usaha sebagai alas atau motor penggerak.

Apa rencana Bapak ke depan dan sikap bapak terhadap investasi asing?

Saya kembangkan bisnis sesuai dengan kapasitas masing-masing. Baik melalui pendekatan nature maupun organic growth perumbuhan. Artinya ada yang dikembangkan secara bertahap di satu sisi dengan membeli bisnis lain yang sudah siap untuk dipercepat pertumbuhannya. Saat ini memang banyak peluang tetapi saya juga harus membatasi diri. Kecuali suatu saat kita memang sudah kuat secara financial, bisa berekspansi di bidang lain. Karena beragam persoalan bangsa ini dipicu tidak terkelolanya setiap hal dengan baik.

Sikap saya terhadap asing, saya ibaratkan kita punya keluarga istri dan anak-anak. Dan kita bertetangga dengan orang asing, kita menghargai dan menghormati mereka tetapi saat kita harus mengakomodasi atau menampung mereka di rumah kita dengan cara menyingkirkan keluarga kita, ya nanti dulu. Artinya masih banyak masyarakat kita yang tidak terurus di mana-mana. Jadi untuk apa kita mengurusi orang lain sementara orang yang dekat dengan kita tidak terurus.

 DEWATA Leadership Talent 

  1. IKHLAS
  1. INTEGRITAS
  1. CERDAS
  1. TEGAS
  1. TANGKAS
  1. BERNAS
  1. TRENGGINAS
  1. TUNTAS
  1. SELARAS

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!