Sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis besar yang dimiliki  Indonesia, perjalanan hidup Chairil Anwar dituangkan ke pentas teater. Termasuk di sana, hubungannya dengan sejumlah sosok perempuan. Aktris Happy Salma, sebagai Produser, mengemasnya menjadi sebuah pertunjukkan teater yang didukung bintang kenamaan Tanah Air, menjadi begitu memukaunya

Perempuan Perempuan Chairil’, pentas teater hasil kerjasama Titimangsa Foundation, — yayasan nirlaba yang didirikan aktris Happy Salma bersama Yulia Evina Bhara – dan  Bakti Budaya Djarum Foundation,  dengan taburan bintang terdepan Indonesia :  Reza Rahadian (berperan sebagai  Chairil Anwar), Marsha Timothy sebagai Ida, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat dan Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiriaredja, diselenggarakan selama dua hari yaitu tanggal 11 dan 12 November 2017, bertempat  di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

HAPPY SALMA, Produser
CHAIRIL DAN SUMIRAT (1)
CHAIRIL DAN SRI AJATI (1)
CHAIRIL DAN IDA NASUTION (1)
CHAIRIL DAN HAPSAH (2)

Pementasan yang wujudkan oleh dua sosok —  Happy Salma, sebagai Produser, dan Agus Noor selaku sutradara  — ini terinspirasi dari buku berjudul “Chairil” karya Hasan Aspahani.  Mereka menemukan bentuk dan fokus pemanggungan Chairil. Termasuk biografi Chairil yang berhubungan dengan sejumlah sosok perempuan yang hadir dalam puisinya.

”Chairil Anwar melalui karya-karyanya merupakan cermin sejarah untuk memaknai apa arti kemerdekaan manusia, juga kemerdekaan sebuah bangsa. Setidaknya esensi itulah yang mendorong saya mewujudkan mimpi mementaskan perjalanan hidup Chairil Anwar,” kata Happy Salma.

Tambahnya,”Melalui puisi-puisinya, Chairil Anwar telah mengambil peran yang tak kecil demi memberi tenaga dan makna pada semangat revolusi dan kemerdekaan Negeri ini. Chairil Anwar mati muda, tetapi karya-karyanya melampaui zamannya. Ia seakan tak pernah mati. Semangatnya selalu ada dan terus hidup bersama kita.”

Lakon pada pementasan teater ‘Perempuan Perempuan Chairil’  tersaji dalam empat babak, yang menggambarkan hubungan Chairil dengan empat perempuan istimewa pada zaman itu. Yakni : Ida Nasution, mahasiswi, penulis yang hebat, pemikir kritis dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil ketika mereka berdebat. Sri Ajati, gadis ningrat yang juga  mahasiswi, main teater dan  model lukisan.  Sumirat,  juga  seorang perempuan terdidik,  yang mengagumi keluasan pandangan Chairil, menerima dan membalas cinta Chairil.

Perempuan keempat, Hapsah. Kehadirannya menyadarkan  Chairil,  bahwa dia adalah lelaki biasa, dan yang memberi anak pada Chairil.

Empat perempuan yang tak sama, empat cerita yang berbeda. Tanpa mengecilkan arti dan peran perempuan lain, tapi lewat cerita empat perempuan ini kita bisa mengenal sosok Chairil juga dunia yang hendak ia jadikan, serta zaman yang menghidupi dan dihidupinya.

“Dengan pendekatan biografi puitik ini, penulisan lakon menjadi memiliki fleksibilitas tafsir, karena tak terlalu terbebani untuk menginformasikan sebanyak mungkin fakta-fakta seputar Chairil.  Fakta-fakta dirujuk untuk mempertegas adegan, percakapan dan konflik. Pergulatan batin dan kegelisahan Chairil, dan  juga tokoh Ida, Sri, Mirat dan Hapsah,  menjadi bisa di eksplorasi menjadi sebuah drama. Karena bagaimana pun, ini adalah pertunjukan teater yang mestilah memiliki bangunan dramatika atau dramaturgi yang diharapkan memikat,” Agus Noor menerangkan.

Pentas teater ‘Perempuan Perempuan Chairil’ kian meriah dan memikat  dengan hadirnya pemain pendukung : Sri Qadariatin sebagai Perempuan Malam dan Indrasitas sebagai Affandi.

Tak kurang, dukungam oleh tim kerja yang solid dan profesional yaitu Iskandar Loedin sebagai Pimpinan Artistik; Ricky Lionardi sebagai Penata Musik; Prabudi Hatma Samarta sebagai Penata Video; Retno Ratih Damayanti sebagai Penata Kostum; Yudin Fakhrudin sebagai Penata Rias; dr. Tompi sebagai Fotografer, dan White Shoes & the Couples Company sebagai Pengisi Lagu.

“Pertunjukan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penulis besar Indonesia, serta membuktikan bahwa karya sastra Indonesia tetap aktual dan dapat diangkat melalui kemasan kekinian sehingga lebih mudah diapresiasi oleh masyarakat terutama generasi muda. Kami harap, melalui teater Perempuan Perempuan Chairil, kita lebih mengenal sosok Chairil Anwar dan kisah dibalik puisi-puisi ciptaanya,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation. (Shayni) Foto : ePR

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!