Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Pria

 Sekali pun depresi selalu dianggap sebagai gangguan kejiwaan yang lebih sering “menyerang” perempuan hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup, tapi ternyata pria memiliki kecenderungan 3,5 kali lipat lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri karena depresi dibandingkan perempuan. Mengapa?

Saat depresi, pria cenderung untuk menyimpan kesedihannya dan menyembunyikan emosi mereka dengan bersikap cuek dan bak pejantan tangguh

Inilaki.com — Meski pria 3,5 kali lipat lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri lantaran depresi dibandingkan perempuan, tapi depresi tetap dianggap sebagai gangguan kejiwaan pada perempuan.

Namun, pemikiran itu dipatahkan oleh sebuah hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam British Journal of Nursingbahwa pria lebih berisiko melakukan bunuh diri. Sekali pun, banyak priatetap sangat yakin jika mereka tidak akan mungkin mengalami depresi. Karena, itu tidak jantan sama sekali.

Jangan Mencampuradukkan Maskulinitas dan Depresi

Di Inggris, 78% kasus bunuh diri dilakukan oleh pria. Di Amerika Serikat, tujuh dari 10 kasus bunuh diri dilakukan pria.

Hal ini, menurut hasil penelitian terbaru tersebut, terjadi lantaran pria lebih sering mengalami apa yang disebut dengan hidden depression dan cenderung tidak mendapat pertolongan. Mengingat, masih kurangnya pemahaman secara profesional terhadap depresi yang menyerang para pria.

Menurut Sarah Patrick dan Steve Robertson, sang peneliti, depresi pada pria seringkali hadir dengan gejala yang berbeda dengan depresi yang dialami perempuan. Bila perempuan akan memunculkan gejala depresi itu secara emosional, vokal, dan ekspresif sehingga secara klinis lebih memungkinkan untuk didiagnosa, maka saat depresi, pria cenderung untuk menyimpan kesedihannya dan menyembunyikan emosi mereka dengan bersikap cuek dan bak pejantan tangguh.

Di sisi lain, pria cenderung lebih sering mengobati depresinya dengan obat-obatan atau alkohol daripada mencari bantuan profesional. Padahal, obat-obatan dan alkohol justru lebih sering memperburuk gejala depresi. Ibaratnya, membantu mengirimkan orang-orang yang sedang depresi ke lereng licin menuju bunuh diri.

Hal ini, masih ditambahi dengantekanan sosial (bahwa pria itu harus kuat, maskulin, terkedali, dan bertanggung jawab) dan tekanan ekonomi (menjadi pengangguran, mengalami kebangkrutan, dan sebagainya). Hal-hal ini, “mengancam” kesehatan mental mereka, semakin mendorong mereka untuk semakin menjauh dari mencari pertolongan, dan pada akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup.

Dari situ, Patrick dan Robertson menyimpulkan bahwa pria yang mengalami depresi akan:

  • Bersikap agresif atau penuh kemarahan.
  • Menyembunyikan emosinya.
  • Mencoba mematikan emosi dengan menggunakan obat-obatan atau alkohol.
  • Melarikan emosi dengan bekerja lebih dari jam kerjanya atau berusaha untuk terus sibuk.
  • Melarikannya dengan mengambil risiko yang ekstrim.

Apa yang Bisa AndaLakukan?

Selama berabad-abad,para priadiharuskan menjadi pencari nafkah,sebagai pelindung, menjadi pengayom,bersikap keren, serta sebagaipengambil keputusan dalam urusan rumah tangga maupun pemerintahan. Sementara isu kesetaraan gender gencar mempromosikan hak-hak perempuan, dengan mengabaikan hak-hak pria, terutama di bidang kesehatan mental.

Pria terus-menerus ditekan untuk harus menjadi tangguh, tabah, dan maskulin. Imbasnya, ratusan ribu pria melakukan bunuh diri setiap tahun.

Jika kita ingin menyelamatkan nyawa para pria ini, mereka yang bergerak dalam kesehatan mental dan sosial harus memahami perjuangan unik para pria dalam menghadapi depresi. Hal ini, dimulai dengan memahami terlihat seperti apa sih pria yang mengalami depresi.

Jika Anda yakin seseorang yang Anda sayangi mungkin mengalami depresi, adakan pendekatan dari sudut pandang logika. Demikian saran Patrick dan Robertson. Sebab, pria lebih mungkin menanggapi sesuatu yang logis ketimbang emosional.

Sementara, mereka yang bergerak di bidang kesehatan mental harus menyesuaikan diri mereka dengan kepribadian laki-laki daripada melakukan pengobatan tradisional, yang biasanya diterapkan pada pasien wanita.

Selanjutnya, tanyakan kepada diri Anda sendiri apakah untuk mengurangi tingkat bunuh diri, kita bersikap seperti sistem kesehatan mental dalam masyarakat kita yaitu jangan depresi?

Rai Cornell, Diterjemahkan bebas oleh Russanti Lubis

Sumber: Sarah Patrick dan Steve Robertson Mental Health and Wellbeing: Focus on Men’s Health, British Journal of Nursing (2016), American Foundation for Suicide Prevention (2016), Dan Bilsker, Professor at Simon Fraser University

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!