Album Baru Robert Plant

Dibandingkan berita rilisan album baru para punggawa classic rock dunia seperti Black Sabbath, Whitesnake pun ‘seteru’nya Deep Purple, pemberitaan maupun review album terbaru Robert Plant nyaris tak terdengar. Apalagi ketika saya mencoba memperdengarkannya dengan beberapa kawan kolektor, rata-rata menganggap album solo Plant pasca tamatnya Led Zeppelin sebagai album yang buruk karena “nggak nge-rock” lagi.

albumMemang, menyimak solo album ke-10 Plant “Lullaby and Ceaseless Roar” butuh persiapan. Salah satunya tak ada lagi hentakan dram dan raungan gitar elektrik semasa ia di Zeppelin pun album-album solonya yang pernah diproduseri pentolan Genesis-Phil Collins. Ya, inilah wajah baru Plant yang nampaknya lebih diperuntukkan bagi pencinta musik yang siap melepas image rockstarnya. Bagaimana bisa?

Tak mungkin memang melepaskan image Zeppelin, namun semenjak band yang membesarkan namanya itu harus tutup buku, Plant seolah tak peduli karya-karya yang dihasilkannya harus terjual jutaan kopi seperti dulu dengan kemunculannya di publik yang tak terlalu sering. Plant seperti hanya mau merilis album jikalau memang dia sendiri memang harus membuatnya-satu hal yang jarang terjadi untuk seorang rockstar dunia-pun rekan sezamannya yang kembali berjingkrakan hanya karena desakan “kangen manggung” oleh fansnya!

Dari dulu Plant memang unik. Semisal, periode 1993-1994 ketika skena rock sedang dilanda demam grunge, ia masih cukup bergigi dengan album “Fate of Nations” (singel hit “29 Palms” dan “If I Were The Carpenters”) dan “No Quarter…Unledded” bersama sohib kentalnya kembali di Zeppelin, Jimmy Page. Kehadiran dua album tersebut cukup mengagetkan karena seperti “jalan sendiri” dengan tetap beraroma hard rock/heavy metal tatkala ketika itu metal meredup.  Tak hanya itu, eksplorasi rocknya dengan musik Timur Tengah di daratan Kairo, Mesir begitu menonjol di album “No Quarter…Unledded” tampak sangat kental, walau semula bersama Zeppelin Plant hanya mampu melakukannya di satu lagu saja, yaitu “Kashmir”.

Pasca album “Timur Tengah”nya (No Quarter…Unledded) itu yang buat saya mirip perkawinan qasidah-rock itu, Plant menghilang, muncul lagi 2007 bersama penyanyi country Allison Krauss juga dengan eksperimen baru yang tentu saja bikin kaget penggemarnya yang masih terngiang-ngiang imej Zeppelin-nya.

8 September 2014 album ini diluncurkan dengan menggelar mini konser sederhana yang justru malah mengukuhkan dirinya sebagai seniman eksperimental-bukan sosok rockstar yang tengah “comeback” ala rekan sezamannya macam Black Sabbath, Whitesnake, Iron Maiden, pun Judas Priest dengan mengembalikan formula rock yang hingar bingar! Sebuah keputusan berani memang, apalagi pasca album ini ketika masih tahap pengerjaan dengan band barunya “The Sensational Space Shifters”, Plant menolak mentah-mentah ajakan sohibnya Jimmy Page untuk konser reuni Led Zeppelin!

Konser reuni Zeppelin buatnya sudah selesai pada 2007 yang kemudian didokumentasikan dalam album live plus DVD film “Celebration Day” (2011). Tak tanggung-tanggung, uang honor yang ditransfer Jimmy Page diam-diam ke rekeningnya agar ia berubah pikiran dan mau reuni Zeppelin 2014, ia kembalikan! “Buatlah karya baru! Kamu pemusik hebat!” pesannya kepada Jimmy Page, yang sepertinya di masa senja tengah mengidap “post power syndrome” dengan hanya mampu merilis ulang versi baru album-album lama Zeppelin!

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan sikap seperti itu apakah album Plant masih layak dikoleksi, mengingat ia tentu sudah tak kuat lagi berjingkrak-jingkrak seperti dulu? Tentu ini yang jadi pertanyaan banyak orang, siapapun –pencinta musik-baik yang bukan  fans Zeppelin sekalipun.

Album ini dibuka dengan  trek “Little Maggie” yang suram, misterius, bahkan terasa “ambience” dengan mengetengahkan bebunyian synthesizers. Trek kedua “Rainbow” agak mirip dengan nuansa lagunya di album “No Quarter…Unledded”. Uniknya di lagu “Rainbow” Plant menyisipkan lengkingan khasnya yang terasa tak dipaksakan seperti ia masih muda namun tampak elegan.  Lagu-lagu berikutnya tetap mencengangkan seperti “Pocketfull of Golden” dan “Embrace Another Fall” yang juga menampilkan suara vokalis Julie Murphy-penyanyi folk asal Wales yang terdengar mirip penyanyi qasidah!

Untuk pengerjaan album ini Plant menggaet sejumlah musisi folk dan blues lokal Inggris dan Wales. Dan memang,setelah mendengarkan album ini, terasa amat kaya sehingga merupakan hibdrida rock, folk, dan ambience yang oleh media massa macam “Mojo” dan “The Guardian” disederhanakan menjadi “psychedelic rock”. Namun mohon “psychedelic rock” di sini jangan buru-buru diasosisiasikan macam Pink Floyd dan The Doors-karena Anda bisa kecewa kalau mengharapkan seperti itu.

Album ini memang tak terlalu meledak dan sepertinya mengecewakan media musik maistream seperti Rolling Stone yang kemungkinan masih terbayang-bayang pamor rockstar Robert Plant semasa di Zeppelin (RS hanya memberi nilai 3 bintang, tapi “The Guardian” memberi 4 bintang). Walau demikian, album ini punya nilai lebih yang mengukuhkan dirinya sebagai seniman musik eksperimental.

Memang album ini punya risiko besar terutama ditinggal fansnya yang masih memimpikan dirinya menjerit ala Zeppelin, namun malah membuka peluang baru bagi penggemar musik progresif-pun pendengar musik baru yang tak sempat mengenal masa jayanya sebagai ikon rockstar 1970-an lantaran buat Plant, masa jeritannya ala lagu hit fenomenalnya “Black Dog” dan “Immigrant Song” sudah berakhir!

Singkatnya, di sini ia mampu menempatkan diri sebagai sosok seniman yang mampu membuat karya baru yang mampu terlepas dari bayang masa lalu meski album ini baru punya arti bagi penikmat musik yang menyukai eksperimen. Album ini tetap menempatkan dirinya sebagai musisi kelas wahid dibandingkan rekan seprofesinya yang “ngotot” sebagai jawara classic rock. Ya, Plant cukup tahu diri dengan kapasitasnya di usia senja sehingga ia masih mampu mengaum dengan caranya sendiri. Oleh: Donny Anggoro (Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!