Nice, Prancis

Pelukis Henry Matisse langsung jatuh hati saat melihat sebuah kota yang memiliki pendaran cahaya warna warni dan mengabadikannya dalam sebuah lukisan. Hasil karyanya kini menarik minat turis mancanegara untuk berkunjung ke Nice, Perancis Selatan.

parc-des-arenes-de-cimiezDi awali dengan menumpang bus kota kecil, dan berkeliling selama satu putaran, sampailah kembali ke stasiun semula. Hingga Anda pun sudah mempelajari berbagai pelosok kota Nice.

Perjalanan akan sedikit menguras keringat ketika berjalan kaki menyusuri bukit Cimiez di Nice. Namun, Anda tak ingin melewatkan kesempatan tersebut karena inilah kesempatan bagi Anda untuk dapat menikmati sudut paling eksotis di “ibu kota” Riviera tersebut.

Mengikuti alur perjalanan di peta turis, menjadikan Promenade des Anglais (kini bernama Quai des Etats-Unis), sebagai titik awal memulai perjalanan Anda. Kawasan old town Nice bersisian dengan bulevar ini. Gedung-gedungnya berwarna kuning ocher dengan arsitektur gaya barok dan sedikit pengaruh neoklasik.

Jika Anda perhatikan jendelanya, bentuknya sangat khas, sehingga dijuluki les volets de nicoise (penutup jendela dari Nice). Mirip bentuk jendela krapyak dengan lubang angin bergaris-garis, namun di tengah-tengahnya bisa dibuka secara vertikal. Kesan resik dan klasik serentak muncul.

nice61

Aroma Kehangatan

Pengalaman lain yang akan Anda rasakan, ketika langkah kaki menapaki rue Droite. Aroma khas semerbak berhamburan menerpa dan memenuhi hidung. Paduan aroma antara keharuman pizza panggang, seduhan kopi bubuk, dan roti croissant yang baru dikeluarkan dari oven pembakaran, menebarkan aroma kenikmatan yang sempurna. Kota tua ini memiliki tipikal permukiman orang Italia perantauan. Penuh dengan restoran mungil, kedai kopi, depot es krim, dan warung sosis.

Rue-Droite-Nice-Cycle-tours-top-rated-attraction

Namun ketika berjalan di lorong-lorong kota Nice harus sedikit waspada. Banyak kotoran hewan yang dibiarkan teronggok. Sebagian besar ini karena keluarga Prancis senang memelihara hewan, khususnya anjing. Namun, sampai saat ini ­- kecuali di Paris, belum ada peraturan yang mengharuskan pemilik hewan bertanggung jawab terhadap kotoran peliharaannya, khususnya di jalan-jalan umum.

Cours Saleya

marche-aux-fleurs-cours-saleya_80Dari Palais de Justice, menyusuri bulevar yang mengitari Opera House, menuju ke arah Cours Saleya. Seluruh badan jalan Cours Saleya digunakan untuk pasar bunga dan sayuran. Segala jenis bunga dalam bentuk bouquet atau dalam pot, dijual di sini. Pasar hanya dibuka sampai pukul 14.00 siang. Setelah itu, petugas kebersihan yang mirip pasukan pemadam kebakaran akan datang, dengan selang-selang besar mereka menyemprotkan air untuk menghalau sampah. Hanya sekitar 15 menit Cours Saleya bersih kembali, dan setelah itu giliran bangku-bangku kafe didirikan. Ketika malam tiba, suasana di sini mirip dengan Pasar Malam di Jakarta, penuh dengan tenda-tenda pedagang souvenir, gemerlap lampu hias dan tenda kuliner.

Pohon-pohon rindang menaungi kedua tepi bulevar Cimiez yang menanjak. Suasana di quarter ini sangat tenang. Beberapa pasangan manula bercakap-cakap di sudut taman sementara itu para ibu muda mendorong kereta bayinya sambil menenteng barang belanjaan.

Antara persimpangan bulevar Cimiez dengan Avenue Desambrois, berdiri museum biblikal Marc Chagall (1887-1985), pelukis Rusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Prancis.

MUSÉE MATISSE

Saat itu hujan mengguyur dengan deras. Cuaca di bulan November memang sulit ditebak. Terik matahari cepat berganti dengan derai hujan. Vila Matisse yang berwarna merah marun mulai samar tersaput kabut. Bentangan rumput hijau tak lagi tampak di depan mata. Kabut telah menyentuh tanah, dan ini merupakan pengalaman yang paling romantis bagi Anda yang berkunjung bersama pasangan. Maka tidaklah berlebihan jika pelukis Henry Matisse berlabuh hatinya di kota ini.