Oleh: Russanti Lubis

Inilaki.com — Oey Tambahsia, namanya melegenda pada zaman Hindia Belanda di Batavia. Itu karena, ia merupakan pemuda Tionghoa peranakan yang kaya raya di mana kekayaan itu berasal dari warisan Bapaknya (baca: Bapaknya Dermawan, red.) dan hobinya berfoya-foya menghabiskan harta warisan itu. Tapi, lebih daripada itu, kesukaannya menggoda para gadis dengan memanfaatkan  ketampanannya yang luar biasa.

Ya, Oey Tambahsiamemang seorang playboy yang gemar gonta-ganti pasangan. Bukan cuma para gadis yang diincarnya, istri orang pun ia embat. Hingga, banyak orang tua yang berusaha melindungi anak-anak gadis mereka dari incaran anak saudagar tembakau di Jalan Toko Tiga, Glodok ini.

Yang menarik, Oey Tambahsia sering sekali (maaf) buang air besar di sungai di Jalan Toko Tiga tersebut. Kemudian, membersihkannya dengan menggunakan uang kertas yang dimilikinya.

Banyak orang menunggu hal itu agar bisa memperoleh uangnya. Bahkan, tidak jarang terjadi baku hantam antarpenduduk karena saling berebut.

Banyak wanita yang berhasil digodanya, lalu diajak bermalam di Bintang Mas, vila miliknya yang berada di Kawasan Ancol, Jakarta Utara

Suatu hari, hal tersebut dilakukannya lagi.Kali ini, tujuannya untuk menarik perhatian para gadis. Salah satunya, anak gadis Keluarga Sim yang keluar dari rumahnya karena trik ini. Selanjutnya, Oey Tambahsia pun menikahi gadis tersebut dengan pesta besar-besaran, yang mengganggu ketenangan umum.

Pesta meriah itu, ternyata tidak mampu menahan Oey Tambahsia untuk kembali ke hobi lamanya. Selang beberapa minggu, ia kembali menggoda para perempuan dan menghambur-hamburkan uang.

Banyak wanita yang berhasil digodanya, lalu diajak bermalam di Bintang Mas, vila miliknya yang berada di Kawasan Ancol, Jakarta Utara (baca: Bintang Mas Ancol, Suhian Oey Tambahsia, red.).

Namun, bukan ulah tidak terpuji ini yang membawanya ke tiang gantungan dan memaksanya mengakhiri hidup dalam usia 31 tahun. Oey Tambahsia ditangkap polisi dengan tuduhan membunuh anak buahnya, Tjoen Kie (baca: Rahasia Kue Beracun, red.).

Ia meracunicentengnya itu dengan cara menaruh racun dalam kue dan buah. Tujuannya, untuk memfitnah saingan dagangnya.

Di sidang pengadilan, Oey Tambahsia menyangkal semua tuduhan. Keluarga Oey juga meminta jasa seorang pengacara terkenal masa itu, Mr. B. Bakker, dengan bayaran yang tinggi plus hadiah 100 gulden, kalau ia berhasil menyelamatkan Oey Tambahsia.

Namun, betapa pun pandainya Mr. Bakker, ia tidak bisa membantah bukti yang diajukan penuntut umum. Akhirnya, hakim ketua mejatuhkan hukum mati di tiang gantungan kepada Oey Tambahsia.

Oey Tambahsia digantung di depan Gedung Balai Kota Stadhuis (sekarang: Museum Jakarta, red.). Saat itu, ia mengenakan baju Cina dan celana putih, serta wajah berseri. (bersambung)