glodok tempo dulu

glodok tempo dulu

Oleh : Russanti Lubis

Dari berbagai sumber

 

Inilaki.com — Pada tahun 1837, Jalan Toko Tiga, Glodok, Jakarta Barat, sudah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Tapi, tidak pernah ada yang mengetahui mengapa dinamakan demikian. Kemungkinan,di tempat yang berada di luar tembok Kota Batavia ini mula-mula hanya terdapat tiga toko.

Yang jelas, 179 tahun lalu, ketika kisah ini terjadi, sudah banyak toko, kios, dan rumah berdiri di sana. Toko terbesar merupakan toko tembakau milik Oey Thoa, pedagang besar Cina yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah.

Saudagar tembakau ini, meski belum lama tinggal di Betawi, cukup terkenal bukan cuma karena kebesaran usahanya (kekayaannya), melainkan juga kedermawanannya. Konon, Oey Thoa mempunyai kebiasaan memberi sedekah kepada orang-orang miskin setiap tanggal satu dan limabelas penanggalan Cina di mana saat itu ia bersembahyang di Kelenteng Kim Tek Le (sekarang: bagian dari Kelenteng Petak Sembilan, red.).

Oey Thoa mempunyai empat orang anak. Pertama, seorang putri yang telah dinikahkan dengan putra Bupati Pekalongan, yang kelak menggantikan kedudukan Ayahnya. Sementara yang kedua, ketiga, dan keempat, semuanya lelaki yaitu Holland (Holan), Tambah, dan Makau (Mako).

Menurut cerita orang-orang, Oey Thoa pindah ke Betawi karena menikahkan anak sulungnya dengan putra bupati, yang merupakan sahabat karibnya sejak dulu. Masyarakat Cina setempat agaknya tidak bisa menerima perkawinan campuran itu. Mereka melakukan berbagai tekanan dan fitnah kepadanya. Sehingga, ia terpaksa meninggalkan kota asalnya.

Beberapa tahun kemudian, sebuah lelang diselenggarakan Balai Harta Peninggalan. Pelelangan kali itu lebih istimewa, karena bukan hanya meliputi barang-barang, perabot rumah tangga, dan lain-lain, melainkan juga tanah.

kelenteng kim tek le tempo dulu

kelenteng kim tek le tempo dulu

Tanah di Pintu Kecil yang ditawarkan itu terletak di sebelah barat berbatasan dengan Kali Pekojan, sebelah timur dengan Kali Besar, sebelah selatan dengan Kali Tongkangan, dan sebelah utara dengan Kali Kampung Melaka. Tanah ini, nantinya diwariskan ke Tambah dan adiknya.

Selain memenangkan lelang dengan nilai 50 ribu gulden, yang dibayarkan secara tunai dengan lembaran uang yang tersimpan dalam ikat pinggangnya, Oey Thoa juga bertemu dan akhirnya bersahabat dengan “Mayor” Tan Eng Goan, salah seorang pemuka Masyarakat Cina terkemuka di Betawi masa itu. Persahabatan keduanya, meningkatkan gengsi Oey Thoa di mata Masyarakat Cina. Bahkan, suatu ketika Tan Eng Goan mengusulkan kepada Pemerintah Belanda agar Oey Thoa diangkat menjadi letnan dan anggota Dewan Tionghoa (Kong Koari).

Setelah beberapa tahun menjabat sebagai Luitenant der Chinezen yang menguasai Onderdistrict Kongsi Besar, Oey Thoa tiba-tiba meninggal. Karena selama menjabat melakukan tugasnya dengan baik, maka ia diberi nama kehormatan Oey Thay Lo yang berarti Oey yang besar dan tua.

Waktu meninggal, usia Oey Thoa baru 50 tahun. Sementara Tambah, yang biasa dipanggil Oey Tambahsia (sia : semacam gelar kehormatan bagi anak laki-laki orang berpangkat, red.) baru berumur 15 tahun. (bersambung)

Related Posts