Russanti Lubis

Dari berbagai sumber

 

Inilaki.com — Sepeninggal Oey Thoa, Oey Tambahsia dan adiknya menerima warisan yang sangat besar. Warisan itu, antara lain beberapa bidang tanah luas di Pasar Baru, Curug, Tangerang, yang sewanya 95.000 gulden setahun dan tanah di Pintu Kecil Jakarta yang sewanya 40.000 gulden setahun. Selain itu, juga tanah yang lain lagi, rumah, barang dagangan, uang, dan perhiasan sejumlah lebih dari dua juta gulden.

Oey Tambahsia yang baru berumur 15 tahun, boleh dikata, seperti sedang kejatuhan harta karun, tanpa pernah bekerja apa-apa. Tapi, rupanya, hal itu mengguncangkan jiwanya. Ya, harta tiban itu membuatnya semakin bertabiat buruk dan bertingkah laku tidak terpuji.

Salah satu sikapnya yang tidak terpuji yaitu ia tidak suka bergaul dengan anggota masyarakat ramai. Ia juga menghindari para pemuka Masyarakat Cina lainnya, sekali pun anak seorang pemuka Masyarakat Cina. Bahkan, ia tidak berambisi menjadi pemuka masyarakat, yang menurutnya hanya menjadi budak orang lain.

senen tempo dulu

senen tempo dulu

Menolak Kedudukan Luitenant der Chinezen

Seratus hari sepeninggal Bapaknya, Oey Tambahsia yang juga sama sekali tidak berniat dan berminat melanjutkan usaha dagang Bapaknya sering terlihat berpesiar dengan kereta yang dihela kuda-kuda poni. Pada kusir, ia berpesan untuk memperlambat jalannya jika melewati kediaman seorang pejabat Cina.

Menurut kelaziman masa itu, setiap orang Cina yang melewati kediaman pemuka masyarakatnya harus membuka tutup kepala sebagai tanda penghormatan. Oey Tambahsia sengaja memperlambat kendaraannya, agar para pemimpin Cina itu melihat bahwa ia akan melakukan penghormatan itu.

Pada suatu hari, salah seorang anggota Dewan Tionghoa (Kong Koari), The Kim Houw, mengunjungi Oey Tambahsia untuk menasihati agar tidak bersikap sombong dan takabur, serta mengandalkan harta peninggalan Bapaknya untuk meremehkan para pemuka masyarakat tersebut. Karena, mereka itu sahabat Bapaknya.

Oey Tambahsia sama sekali tidak menggubris nasihat The Kim Houw, yang sebaya Bapaknya. Bahkan, mempermalukannya. Oey Tambahsia bersikap begitu, karena ia mengetahui bahwa banyak di antara para pemuka Masyarakat Cina itu menerima sumbangan keuangan dari mendiang Bapaknya.

Oey Tambahsia juga menolak mentah-mentah tawaran Mayor Tan Eng Goan untuk menduduki posisi Luitenant der Chinezen yang masih lowong, sepeninggal Ayah Oey Tambahsia.

Sementara pertemuan tidak disengaja dengan sang Mayor, bermula dalam sebuah pelelangan. Oey Tambahsia yang juga hobi pamer atau adu kekayaan, melampiaskan hobinya itu pada suatu hari di sebuah tempat pelelangan.

Ketika itu, seorang anggota Dewan Hindia akan pulang ke negerinya. Menurut kebiasaan zaman itu, perabotan rumah tangganya dilelang. Para penawar, umumnya para sahabat, kenalan, atau relasinya. Mereka sengaja menawar lebih tinggi daripada harga sebenarnya, dengan maksud memberi sekadar bekal kepada yang bersangkutan. Pelelangan barang pejabat tinggi itu, juga mendapat perhatian besar dari Masyarakat Cina Betawi. Terutama, para pemukanya.

Hadirin keheranan akan munculnya penawar misterius itu. Rupanya, ia memang sengaja ingin menjatuhkan martabat pemimpin Masyarakat Cina itu di muka umum.

Dalam lelang itu, ditawarkan sebuah meja rias bercermin. Mayor Tan Eng Goan menawarnya 100 gulden, sebuah harga yang sudah di atas pasaran. Tapi, ia heran, karena ada orang lain yang berani menawar dua kali lipatnya. Demi gengsi, ia menaikkan tawarannya menjadi 300 gulden. Ternyata, penawar tidak dikenal itu, berani membayar 500 gulden. Mayor Tan pun penasaran dan berusaha mencari orang itu, namun tidak menemukannya.

Kemudian, dilelang sebuah meja tulis kayu yang berukir indah. Dimulai dari 50 gulden, harga penawaran barang itu terus meningkat sampai 2.000 gulden. Rupanya penawar tersembunyi itu beraksi lagi.

Tan Eng Goan merasa panas hati, sebab seakan-akan ditantang lagi. la menaikkan penawarannya sampai 5.000 gulden. Tapi, agaknya penawar misterius yang menyampaikan penawarannya secara rahasia pada juru lelang memang mempunyai dana tidak terbatas. Sang Mayor pun akhirnya menyerah, ketika harga mencapai 10.000 gulden.

ancol tempo dulu

Ancol tempo dulu

Hadirin keheranan akan munculnya penawar misterius itu. Rupanya, ia memang sengaja ingin menjatuhkan martabat pemimpin Masyarakat Cina itu di muka umum.

Dengan geram, Tan Eng Goan mencoba mencari keterangan, siapa gerangan pembeli yang menutupi identitasnya itu. Juru lelang tidak bersedia mengungkapkannya. Akhirnya, Tan Eng Goan berhasil juga mendapat keterangan bahwa Oey Tambahsia yang bermain di belakang layar itu.

Pemuka masyarakat itu semakin geram dan dendam.Tapi, ia masih berusaha menahan diri. Mengingat, hubungan baiknya dengan mediang Oey Thoa. Ia tidak mau mengambil tindakan apa pun, ketika rekan-rekannya sesama anggota Kong Koari mendesaknya untuk memberi pelajaran kepada anak muda yang congkak itu. Malah, Tan Eng Goan mengirim utusan pribadi untuk membujuk Oey Tambahsia agar mau mengubah sikap dan tingkah lakunya, serta menawarkan kedudukan Luitenant der Chinezenyang masih lowong, sepeninggal Oey Thoa.

 

Royalnya Tidak Ketulungan

Remaja yang satu ini, juga terkenal karena royalnya yang tidak ketulungan. Ia sering memberi tip pada orang-orang yang dekat dengannya.

Salah satu ulahnya yang paling dikenal dalam menghambur-hamburkan harta Bapaknya yaitu kebiasaannya membersihkan diri dengan lembaran uang kertas, setelah melakukan hajat besar di Kali Toko Tiga di depan rumahnya. Imbasnya, setiap pagi terjadi perkelahian berdarah di antara orang-orang yang memperebutkan lembaran uang kertas itu.

 

Getol Berburu Perempuan

Dengan kekayaan melimpah plus wajah tampan, nama Oey Tambahsia juga langsung melejit. Ya, jejaka ting-ting ini hampir dikenal oleh semua penduduk Pecinan saat itu. Bukan cuma karena tajir dan berwajah rupawan, melainkan juga karena gemar berdandan. Setiap pagi dan petang, ia suka naik kuda berkeliling kota. Kepalanya bertopi karpus sutera, pakaian tradisional Cina yang dipakainya tampak sangat rapi.

[su_pullquote align=”right”]Untuk mendekati para perempuan tersebut, si hidung belang ini tidak peduli akan risikonya. Bahkan, ia berani mengganggu selir Mayor Tan Eng Goan.[/su_pullquote]

Ketika berusia 17 tahun, setiap sore, Oey Tambahsia juga pesiar keliling kota untuk mengintip anak perawan para bangsawan dan hartawan guna dijadikan istri. Maklum, ketika itu, para gadis, termasuk gadis Cina, masih dipingit tidak boleh keluar rumah tanpa didampingi orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Karena seleranya amat tinggi, Oey Tambahsia tidak mau langsung menemui gadis idaman hatinya. Dengan sombong, ia sempat berkata: syarat gadis yang akan diperistri harus dilihat dulu, cantik atau tidak.

Penasaran untuk mendapatkan gadis bahenol, Oey Tambahsia pun melakukan pencarian ke Pasar Baru dan Senen di Weltevreden. Kali ini dengan bertopi koboi dan pakaian perlente, sambilmenaiki kuda Australianya yang bernama Thufan. Sehingga, ia tampak gagah sekali.

Di suatu sore yang cerah, penduduk Kawasan Senen amat heran ketika Oey Tambahsia dengan Thufan-nyak mondar-mandir di depan rumah keluarga Siem. Keesokan harinya, baru diketahui bahwa pemuda tampan ini sudah melihat anak perawan keluarga Siem yang cantik jelita.

Saat melamar, Oey Tambahsia langsung memberikan uang saku 1.000 gulden. Uang sebesar ini, saat itu bisa dipakai untuk membeli beberapa rumah mewah. Istimewanya, ketika pesta perkawinan berlangsung, Jalan Petekoan ditutup selama sebulan, persisnya, dari jembatan Jalan Toko Tiga sampai ujung Jalan Petekoan. Dan, untuk menggelar pesta perkawinannya, ia mengeluarkan biaya 35.000 gulden.

senen tempo dulu-1 copy

Senen tempo dulu

Namun, dasar playboy, setelah mempunyai istri cantik, Oey Tambahsia justru semakin getol berburu perempuan. Bahkan, ia tidak peduli mereka sudah bersuami. Dengan bujukan harta bendanya, banyak yang berhasil digaet. Meski, tidak sedikit pula perempuan yang lalu ia lepaskan setelah merasa bosan.

Untuk mendekati para perempuan tersebut, si hidung belang ini tidak peduli akan risikonya. Bahkan, ia berani mengganggu selir Mayor Tan Eng Goan. Setiap kali perempuan itu main wayang, Oey Tambahsia melemparkan uang perak seringgit (= 2,5 gulden) yang dibungkus uang kertas. Akibatnya, gundik ini pun tergoda hatinya.

Istri seorang pemilik toko kelontong yang berparas cantik, juga rela meninggalkan suaminya dan kemudian tinggal bersama Oey Tambahsia di suhian-nya. Sekadar informasi, Oey Tambahsia memiliki suhian (rumah pelesiran) bernama Bintang Mas di Ancol, Jakarta Utara. Ia menjadikan tempat itu bukan hanya untuk bersenang-senang, melainkan juga wadah pertemuan para wanita yang tergoda bujuk rayu, ketampanan, dan harta bendanya. Termasuk, sejumlah wanita Belanda yang berselingkuh dari suaminya.

Mengetahui istrinya dilarikan ke Ancol, Babah pemilik toko kelontong mengejarnya.Pria yang berani mengganggu kesenangan Oey Tambahsia ini, akhirnya dihabisi nyawanya. Kekejian Oey Tambahsia bukan cuma itu.Banyak kejahatan lain yang dilakukannya. Termasuk, sejumlah pembunuhan yang dilakukanmelalui kaki tangannya.

Imbasnya, ia sering dicari-cari polisi. Tempat peristirahatannya di Ancol pun sempat digerebek polisi, tapi selalu sudah tidak terlihat batang hidungnya.

Hingga, di suatu pagi, saat sedang mengadu ayam di Pasar Asem, Pecenongan, Jakarta Pusat, para polisi berhasil menangkap Oey Tambahsia. Penangkapan yang sempat membuat gempar para petaruh sabung ayam karena mengira para polisi itu melakukan penggerebekan, membuat Oey Tambahsia menyadari bahwa ia terkena tuduhan berat ketika tangannya diborgol. (bersambung)