Ayam Pramugari

Bukan sekadar ayam goreng khas Aceh. Sebab, Ayam Pramugari memiliki kaki yang jenjang dan ramping, serta rasa yang gurih. Imbasnya, Rumah Makan Adytya Jaya selalu kebanjiran konsumen, baik dari masyarakat sekitar maupun para pendatang yang baru turun dari pesawat

Besar dan gurih

Inilaki.com — Beberapa waktu lalu, saat mengunjungi Lhokseumawe, Aceh, Inilaki.com menyempatkan makan siang ke Adytya Jaya. Rumah makan yang terkenal dengan Ayam Pramugari-nya itu berada di Jalan Blang Bintang Lama atau sekitar 2 km dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh.

Ayam Pramugari? Ya, di sini tersedia ayam goreng khas Aceh yang uniknya memiliki kaki-kaki jenjang, mirip dengan kaki para pramugari. Selain itu, juga karena rumah makan ini sering dikunjungan para pilot dan pramugari yang sedang rest overnight di Aceh. Lantaran, lokasinya dekat dengan Bandara SIM.

Di samping memiliki kaki jenjang, Ayam Pramugari juga berukuran besar (satu ekor ayam dibagi menjadi empat potong, red.). Dalam penyajiannya, ayam yang dibandrol kurang lebih Rp20 ribu/potong ini dilengkapi dengan potongan Daun Temurui, Cabe Hijau, Daun Pandan, dan Daun Jeruk yang juga digoreng. Juga, dilengkapi dengan Kuah Sie Kameng (Kari Kambing khas Aceh, red.).

Proses penggorengan Ayam Pramugari juga unik. Sebab, dilakukan di atas wajan yang sangat besar dan penuh dengan minyak goreng panas. Lalu, semua potongan ayam kampung yang sudah diungkep itu berikut Daun Temurui, Cabe Hijau, Daun Pandan, dan Daun Jeruk dimasukkan ke dalam wajan tersebut, digoreng barengan. Sehingga, bumbunya meresap dan rasanya pun gurih.

Selain Ayam Pramugari, Adytya Jaya juga menyediakan ati-ampela goreng dan Kuah Beulangong (nama lain Kuah Sie Kameng, red.). Kalau lagi beruntung, pengunjung bisa mendapatkan kepala kambing.

Dikatakan begitu, sebab, rumah makan ini memang tidak menyediakan menu kepala kambing. Kepala kambing biasanya tetap berada dalam rebusan kuah kari atau hanya sebagai kaldu.

Adytya Jaya buka dari jam 10.00 hingga 17.00. Saat makan siang, khususnya, rumah makan yang tidak membuka cabang di mana pun ini padat pengunjung baik yang datang dari sekitar rumah makan ini maupun para pendatang yang baru turun dari pesawat (Catur W. Nugroho/Russanti Lubis